Laki-laki yang Memesona Perempuan

Oleh: Siti Oniah
(Istri saya, Mardani Ali Sera)

1.Laki-laki itu adalah yang memiliki kesakralan dan keabadian cinta pada belahan jiwanya hingga ke surga.
Buya Hamka sepeninggal istri tercinta bisa menghabiskan masa 5 sampai 6 jam untuk tilawah Quran. Ketika ditanya sang anak Irfan Hamka tentang hal ini, maka ulama yang amat tulus dan dalam kecintaan pada kekasih hatinya ini menjawab: “Kau Irfan, tidak mudah bagi Ayah untuk melupakan kebaikan Umi. Bila ingatan Ayah muncul begitu kuat pada Umi, Ayah akan berwudhu untuk sholat taubat dua rokaat. Kemudian Ayah akan lanjutkan dengan mengaji.”

Duhai, indah dan legitnya cinta sang Buya. Tetap mencinta walau adinda sudah tutup usia. Mengapa cinta Buya demikian bening? Ya… Karena beliau ulama yang berguru pada Baginda Rasul. Kanjeng Nabi Junjungan kita semua Nabi Muhammad SAW. Bukankah Baginda memberi contoh, selalu mengingat ibunda agung. Ibunda kecintaan kita semua, Khadijah yang Allah mencucurkan ridha pada beliau.

Tak hanya Buya Hamka, dunia pun disesaki pula oleh para lelaki memesona yang memiliki kecintaan dan kesetiaan pada sang istri. Bahkan sampai mematri janji hingga ajal menemui pun berbalut tekad untuk mencinta si buah hati. Mari kita jenguk curahan hati Sapardi Djoko Damono.

-(Pada Suatu Hari Nanti)-

Pada suatu hari nanti
Jasadku tak akan ada lagi,
Tapi dalam bait-bait sajak ini,
Kau tak akan aku relakan sendiri.

Pada suatu hari nanti
Impianku pun tak dikenal lagi,
Namun di sela-sela huruf sajak ini,
Kau takkan letih- letihnya kucari.

Semoga Allah memberkahimu, memberkahi kalian wahai para lelaki yg memesona.

2. Laki-laki yang memesona adalah yang amat kuat kesabarannya. Menghadapi segala ulah dan kerenah perempuan.

Ahai, bukan perempuan namanya jika tidak ngambekan dan cemburuan😊😄🙏 . Kita semua tahu episode ngambeknya Ibunda Aisyah, dengan memecahkan mangkuk ketika mendapat kiriman makanan dari “madunya”, saat suami tercinta berkumpul dengan para sahabat di rumah beliau. Baginda Nabi tidak membalas ulah ibunda. Beliau hanya berujar: “Ghorrot ummukum” (tengah cemburu ibu kalian).

Kenapa ibunda kok berani ya ngambek dan menumpahkan kecemburuan? Wahai para lelaki, ketika perempuan itu berani ngambek dan merajuk padamu, apalagi di saat ada murid muridmu, itu pertanda bahwa ia merasa dicinta😘. Tak akan ada ulah dan tingkah ketika perempuan tak merasa dicinta. Sungguh, engkau mulai menjadi lelaki yang memesona ketika belahan jiwamu dapat mengekspresikan tingkahnya. Istrimu merasa dicinta olehmu, istrimu merasa aman dalam dekap sayangmu. Hingga istrimu merasa engkau tak akan menyakitinya ketika ia berkreasi dalam tingkahnya.

Bukankah Umar bin Khatab yang garang pun rela tak membalas sepatah kata pun tatkala sang istri beraksi dengan rentetan panjang omelan merdunya.

Ketika istrimu “pede” bahwa engkau tak kan terpancing emosi menghadapi ulahnya, percayalah… Cintanya akan bulat dan utuh hanya untukmu. Doa-doanya akan selalu deras tercurah padamu. Air matanya akan kerap terurai buatmu agar engkau selalu dalam kasih sayangNya, ridhaNya dan penjagaanNya. Karena engkau telah rela dan ridho tidak membalas segala kerenahnya.

Duhai… engkau akan menuai kehidupan yang manis di dunia dan akhirat insya Allah. Percayalah dan camkan, segala ulah perempuan hanya karena ingin menguji sampai dimana cintamu padanya.

3. Laki-laki memesona adalah yang dermawan kepada keluarganya.

Janganlah seperti ulahnya Abu Sufyan. Karena keengganannya dalam mengeluarkan harta buat keluarga sampai-sampai Hindun meminta dispensasi pada Nabi agar diperbolehkan mengutip tanpa pamit uang yang ada dalam dompet sang suami. Baginda Nabi yang bijak pun mengizinkan Hindun melepaskan lembar-lembar Reyal dari dompet suaminya tanpa izin untuk kepentingan nafkah. Asal tidak berlebihan tentunya. Percayalah wahai lelaki, ketika engkau tidak sayang mengeluarkan nafkah untuk membahagiakan istri dan anak-anak, niscaya rizkimu akan berlipat dan barokah akan selalu menghampiri. Karena dengan dermawan istrimu akan bahagia, dari kebahagiaannya sekali lagi akan dan akan mengalir deras laksana hujan, doa-doa panjang untukmu dalam dhuha dan tahajudnya.

Wallahu A’lam bishawab.

Pondok Gede, 3 November 2016.

Yang dhoif:
Jiddah dari Aretha Kanzia Zareen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s