2019 Ganti Presiden, Mardani Alisera Galang Dukungan

INDOPOS.CO.ID – Ada semangat baru untuk mengganti Presiden lewat pemilihan presiden (pilpres) 2019 mendatang. Adalah Mardani Alisera, salah satu figur yang masuk dalam daftar 9 capres-cawapres Partai Keadilan Sejahtera (PKS), meluncurkan kampanye komunikasi dengan slogan ‘2019 Ganti Presiden’. Sontak slogannya ini mencuri perhatian masyarakat.

“Saya bukan hanya berbicara sebagai kader yang ditunjuk oleh partai (PKS) menjadi salah satu calon (capres-cawapres). Tapi saat ini saya berbicara juga sebagai rakyat yang menginginkan agar Indonesia di 2019 memiliki presiden baru,” kata Mardani saat berbincang dengan INDOPOS, di Tebet, Jakarta Selatan, Kamis (8/3).

Nama Mardani mulai dikenal publik sejak menjadi ketua tim sukses pemenangan Anies-Sandi di pilgub DKI lalu, yang mampu mengalahkan incumbent Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Belakangan, dalam beberapa hari ini, nama Mardani mulai meramaikan lagi jagat media sosial dengan me-launching kampanye ‘2019 Ganti Presiden’, dengan sejumlah programnya.

Kepada INDOPOS, Mardani pun secara tegas menyatakan bahwa dirinya menginginkan Indonesia harus berganti presiden dan tidak lagi dipimpin oleh Joko Widodo. Saat ini kata dia, Indonesia seperti kapal laut yang akan tenggelam, karena ‘nakhodanya’ tidak mahir.

“Negara ini ibaratnya kapal yang akan tenggelam, karena nakhodanya hanya sekadar mau (jadi nakhoda). Tapi tidak tahu dan tidak mampu membawa kapal ini berlayar di laut lepas,” tegas Mardani.

Dengan tagline 2019 Ganti Presiden, Mardani mengaku memiliki beberapa program unggulan yang diyakini tidak dimiliki oleh bakal calon presiden-wakil presiden.

Apa saja itu? Pertama adalah akan melakukan Revolusi Pendidikan. Yakni akan memangkas masa jenjang sekolah. “Jadi saya akan membuat sekolah SD sampai SMA hanya 6-7 tahun tanpa ujian nasional. Lalu kuliah S1 selama 3 tahun. Jadi total 10 tahun sudah lulus kuliah. Sehingga di usia 17 tahun sudah siap bekerja,” ungkapnya.

Apakah bisa? Dia menyatakan bahwa Usia 17 tahun adalah usia yang sudah matang, sebagaimana selama ini menjadi syarat kepemilikan kartu tanda penduduk (KTP).

“Seharusnya di usia 17 tahun itu masyarakat Indonesia juga sudah menikah. Sebagaimana juga yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Menikahlah, jangan berzina,” ujarnya.

“Jadi selain memudahkan masyarakat mencari penghidupan, dengan pernikahan muda juga menjadi bonus demografi yang bisa dimanfaatkan untuk pengembangan sumber daya manusia dan penguatan negara,” jelasnya.

Untuk menunjang hal itu, tentunya bagi Mardani, negara juga harus menyediakan lapangan pekerjaan. Salah satunya dengan memudahkan izin usaha untuk para investor.

“Saat ini ada 42 ribu aturan yang menghambat izin usaha. Seperti ingin membangun pelabuhan harus mempunyai 142 izin. Begitu pula dengan usaha lainnya. Saya akan memangkas aturan tersebut,” tegasnya.

Ia mengaku, sebaiknya pemerintah membiarkan masyarakat memiliki usaha dengan mudah. “Seperti misalnya usaha kuliner. Soal persaingan pastinya akan tereleminasi dengan sendirinya. Kalau tidak enak rasanya pasti akan ditinggal oleh konsumen. Yang terpenting roda perekonomian masyarakat dengan mudah berputar,” tuturnya.

Kemudian, untuk memangkas aturan perizinan, kata Mardani, pastinya juga harus diikuti dengan pemangkasan birokrasi. “Jokowi janjinya mau merampingkan kementerian, buktinya malah nambah. Yang justru menambah panjang birokrasi serta banyak tumpang tindih aturannya antar-kementerian. Jadi saya mengusulkan nanti kementerian lebih baik 10 saja,” tegasnya.

Untuk menciptakan rasa nasionalisme dan generasi muda yang kokoh dan cinta tanah air, Putra Betawi, kelahiran tahun 1968 di kampung Galur, Cempaka Putih, Jakarta Pusat ini juga akan membuat program Duta Desa.

Yakni program layaknya wajib militer. Dimana setiap satu desa mengirimkan satu perwakilan yang akan mengikuti pendidikan nasionalisme serta beasiswa ke sejumlah negara maju. Dan Setelah lulus diminta mengabdi untuk membangun negara.

“Meski harus mengeluarkan dana Rp70 triliun per tahun untuk sekitar 77 ribu desa, tetapi dengan program ini akan memiliki generasi yang mumpuni. Yang saya yakin negara ini akan lebih kuat nantinya,” tukasnya.

Kemudian, lanjutnya, dirinya akan mengubah program infrastruktur yang dijalankan oleh rezim Jokowi. “Yang benar itu bukan jalan dulu, tapi yang dibangun adalah industrinya dulu. Setelah industri bertumbuh, baru jalannya dibuat dengan uang dari hasil industri itu. Sehinggga kita tidak berutang,” jelasnya.

“Jadi sebagai penutup, saya hanya menegaskan bahwa saat ini rakyat telah dibuat terlena dengan ‘istana pasir Jokowi’. Terlihat indah di luar, namun sangat rentan dan roboh,” tutup pria dengan gelar master dan doktor dari Universiti Teknologi Malaysia ini. (dil)

Sumber: Indopos

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s