Ahok dan Fenomena DKI

Melalui proses yang tidak ada dalam pikiran dan tidak ada dalam niatan, Partai Keadilan Sejahtera menyalonkan saya untuk maju dalam Pilkada DKI. Masih panjang proses untuk mencapai kata sepakat diantara beberapa partai yang tergabung dalam koalisi. Apatah lagi untuk mendaftar. Mungkin saat tulisan ini terbit sudah jelas siapa saja kandidat definitif pasangan calon DKI 1 dan 2. Saya pribadi memaknai pencalonan ini sebagai bagian dari kasih sayang Allah Ta’ala menjaga saya untuk selalu terikat dan komit dengan nilai-nilai dakwah.

Tapi yang saya bicarakan bukan tentang diri saya. Tapi fenomena seorang Pak Ahok yang mampu mempesona sekitar 30-40 % pemilih DKI. Hal ini menarik karena apa yang terjadi di DKI bisa dilihat sebagai masa depan poliik Indonesia. Semua tahu Pak Ahok bukan orang Betawi atau Jawa sebagai mayoritas suku. Juga bukan berasal dari mayoritas agama dan ras. Dengan karakternya yang tegas, sebagian mempersepsikannya keras, tidak beradab dan terkesan kasar, namun dukungan publik di beberapa survey angkanya mendekati 70 % antara yang suka dan sangat suka Pak Ahok. Mulai dari karakter berani melawan DPRD, menjaga anggaran hingga mereformasi birokrasi dan bekerja menghadirkan layanan publik untuk masyarakat DKI, memposisikan Pak Ahok sebagai kandidat terkuat terpilih kembali di Pilkada 2017.

Pada kesempatan kali ini saya ingin mengulas beberapa faktor yang banyak dipertimbangkan publik DKI. Pertama, dibanding daerah lain, jumlah kelas menengah di DKI tertinggi. Artinya sikap mandiri, well informed, rasional dan result orriented merupakan ciri kelas menengah. Plus sangat tidak menyukai status quo, feodalisme, seremonial dan korupsi. Mereka tahu penyakit korupsi adalah akar dari banyak keburukan. Karena itu hukuman mereka terhadap pelaku korupsi sangat keras, sementara sikap mendukung gerakan atau tokoh anti korupsi sangat tinggi. Jadi mereka yang ingin membangun budaya dan sikap politik yang bersih, anti korupsi, tidak tunduk pada oligarki partai, dan lain-lain bisa menjadikan DKI sabagai ladang amalnya.

Kedua, publik kian tidak memberi perhatian lebih pada latar belakang yang bersifat taken for granted. Tidak melihat latar belakang; selama bersih, anti korupsi, bawa terobosan baru yang diperlukan publik hingga berkinerja tinggi, maka publik terbuka untuk mengapresiasinya. Ini sebetulnya baik untuk demokrasi kita yang berfungsi sebagai aturan main mengatur sirkulasi kepemimpinan nasional. Bahwa pergantian kepemimpinan di level manapun hanyalah masalah mencari pemimpin yang bisa bekerja efektif untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat lebih sejahtera, lebih cerdas, lebih sehat dan lebih beradab sebagai bekal membangun negeri. Tidak ada lagi pilkada yang dipenuhi dengan kebencian dan ketakutan karena urusan ras, suku ataupun agama.

Ketiga, terbuka bagi merit system yang menjadi antitesa dari politik dinasti. Salah satu efek dari demokrasi yang lebih mengarah ke prosedural ketimbang substansial adalah maraknya politik dinasti: Banten, Lampung, sebagian Jawa Barat hingga merambah ke Sumatera dan pulau-pulau lain. Politik dinasti sejatinya merupakan musuh publik untuk segera dewasa. Tidak heran dalam UU Pemilu kita sudah mulai ada pasal yang membatasi munculnya politik dinasti. Pilkada DKI dan pemilih rasional dapat menjadi awal bagi munculnya karakter merit system: bahwa yang terpilih adalah mereka yang puya kapasitas walau bukan dari keluarga utama, bukan pengusaha dan bukan mereka yang didukung kekuatan uang semata.

Keempat, Pilkada DKI juga memberi pelajaran betapa membangun track record yang didasari kapasitas dan integritas adalah sebuah kemestian. Mereka yang disukai publik biasanya adalah mereka yang sudah punya karya. Karena itu bagi mereka yang berniat berkontribusi memperbaiki negeri melalui bidang politik, perlu memikirkan untuk mulai membangun dari desa atau level kabupaten kota. Dari sanalah karya dan peninggalan kita bisa dinilai publik. Dengan konsistensi inilah publik juga diuntungkan, mereka yang diusung adalah mereka yang sudah punya karya dan punya kelebihan.

Jadi, mari nikmati Pilkada DKI seperti menikmati Liga Inggris yang penuh aksi dan drama namun sangat mengasyikkan dan menyenangkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s