Logika Tokoh dan Peluang Politik

Ada yang berubah di medan politik dalam kurun lima tahun terakhir ini. Kekuatan partai politik kian ‘tunduk’ pada logika ketokohan. Salah satu bukti awal yang diikuti oleh bukti berikutnya adalah Pilkada DKI 2012 dan Pilpres 2014.

Ketokohan lokal Pak Jokowi di Solo yang kemudian menyeruak menjadi salah satu bintang di nasional membawanya masuk dalam pertarungan Pilkada DKI 2012. Itupun pada injury time. Bahkan pada beberapa pekan sebelum masa pendaftaran, Pak Jokowi masih menyatakan ‘tidak mikir’ maju ke Pilkada DKI 2012. Namun last minute, tentu berdasarkan survey dan peluang menang, PDIP dan Gerindra menduetkan Jokowi-Ahok yang akhirnya menang. Salah satu unsur utama yang jadi pertimbangan kenapa memajukan Jokowi di DKI pada 2012 adalah popularitas Jokowi yang memang tinggi.

Hal yang sama terjadi saat Pilpres 2014. Dengan menggunakan momentum kemenangan Pilkada DKI 2012, fenomena ketokohan Jokowi terus dijaga dan ditingkatkan. Puncaknya saat PDIP menjadi pemenang Pileg 2014; dan Ibu Megawati yang pantas untuk maju dalam Pilpres—karena kerja kerasnya memenangkan PDIP pada Pileg 2014—ternyata berhadapan dengan realita bahwa Jokowi memiliki popularitas dan elektabilitas di atasnya. Dari beberapa sumber data hasil survey diketahui bahwa pilpres dapat dimenangkan PDIP hanya jika Jokowi yang dimajukan.

Fenomena sekarang pun sama. Petahana Gubernur DKI Pak Ahok yang menabung banyak simpati publik saat berani melawan DPRD, mengawal anggaran hingga kasus gonta-ganti eselon satu dan dua, membuat popularitas dan elektabilitasnya hingga saat ini tertinggi dibanding calon lain. Maka terjadilah kembali fenomena partai politik harus mengakui logika ketokohan. Tiga Parpol—Nasdem, Hanura dan Golkar—mendukung Pak Ahok baik maju melalui independen atau melalui Parpol. Terlepas bahwa di kemudian hari jalur Parpol yang dipilih, tetapi munculnya Teman Ahok dan juga Relawan Jokowi yang terpisah dari mekanisme struktur Partai—lihat tulisan sebelumnya tentang Gerakan Sosial Partisan—kian menegaskan bahwa Logika tokoh tidak bisa lagi diletakkan di bawah Logika Parpol.

Lalu apa pelajaran yang bisa diambil? Pertama, logika sederhana publik. Apalagi di negara berkembang. Memahami Tokoh jauh lebih mudah dan connect dibanding dengan memahami Partai. Contohnya visi, misi ataupun program kerja Parpol. Bahkan dalam sebuah survey yang dilakukan DPP PKS bersama lembaga survey eksternal diketahui logika sederhana publik bahwa: Seperti apa penampilan, image dan persepsi pimpinan parpol, seperti itu pula publik mempersepsi parpolnya. Jika pimpinan parpol —tidak harus ketua umum— dipersepsi cerdas, charming (mempesona) dan selalu bekerja, maka publik pun menyematkan sifat tersebut pada parpolnya. Jadi sangat penting menyiapkan barisan tokoh yang jadi etalase publik sesuai dengan persepsi yang parpol inginkan dari publik.

Kedua, ada banyak jalan menjadi tokoh. Seperti adagium ‘Banyak Jalan Menuju Roma’. Pak SBY membangunnya melalui jalur menteri dan meledak populari-tasnya saat terjadi momentum konflik dengan atasannya saat itu. Pak Jokowi juga Ibu Risma membangun ketokohannya melalui jabatannya sebagai walikota. Pak Ahok dan Kang Aher melalui posisinya sebagai Gubernur. Namun ada juga beberapa artis/selebriti yang masuk dunia politik melalui popularitas karena sering tampil di media, TV khususnya. Misalnya Pak Rano Karno, Dedi Mizwar, Teh Desi Ratnasari, dll. Sebagian yang lain membangun ketokohan melalui kerja sosialnya. Memang tidak ada jalan tunggal dan momentum yang sama. Tapi rata-rata mereka adalah orang-orang terbaik atau terpopuler atau terunik pada bidangnya.

Ketiga, rata-rata para tokoh ini memang charming (menawan dan mempesona publik). Termasuk media. Baik karena kinerjanya, ramah publik dan ramah media, anti korupsi ataupun memiliki satu isu yang kuat melekat padanya. Kadang berupa hal kecil—seperti naik pesawat ekonomi sambil ngantri ataupun sikap pembelaannya pada masyarakat kecil.

Sebagai partai kader, yang memiliki sistem tarbiyah yang rapi, PKS mestinya memiliki banyak persediaan tokoh yang mampu memesona publik. Tinggal syaratnya satu: segeralah berinteraksi dengan publik. Mulai dari komunitas yang kecil dan dilakukan secara terus menerus. Itu pula yang dicontohkan baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat radhiyallahu anhum. Tentu dengan tetap menjaga niat yang lurus semata karena Allah SWT.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s