Menangkap Masa Depan Politik Indonesia

Dunia politik selalu melahirkan bintang di panggung. Setelah Jokowi di Solo dan Risma di Surabaya, Ahok di DKI sedang jadi pusat perhatian. Baik karena pilihan sikapnya yang tegas tanpa tedeng aling-aling, plus keberaniannya memutuskan maju independen. Sebelumnya, ketegasannya tidak mengawal APBD DKI banyak mendapat apresiasi. Yang memusuhi dan menentang Ahok pun tak kalah banyak.

Tapi saya tidak akan bicara tentang orang per orang, apatah lagi mencari manakah bintang panggung yang dari PKS. Insya Allah semua kader, baik yang di grass root ataupun yang sedang mendapat amanah jabatan publik, kini sedang tekun bekerja. Dan bila tiba waktu dan momentumnya, insya Allah akan muncul sosok kader dan pimpinan PKS yang dicintai anggota dan publik. Namun fokus saya, bagaimana kita harus dapat menangkap masa depan.

Saat pengumuman kesepakatan dibelinya Nokia oleh Microsoft, CEO Nokia Sthepen Elop mengatakan, “We didn’t do anything wrong, but somehow, we lost”, Kami tidak melalukan sesuatu yang salah, tapi kami kalah. Memang dunia bisnis memiliki speed di atas dunia politik. Daur ide, gagasan dan praktek bisnis berjalan jauh lebih cepat dibanding dunia politik. Namun, rumusnya sama, siapa tidak bersiap diri, siapa tidak berinovasi dan siapa tidak menangkap masa depan, siap-siap ditinggal zaman. Dalam bahasa politik, siap-siap ditinggal konstituen.

Lalu apa saja langkah yang harus diambil agar kita dapat menangkap masa depan politik di tanah air? Sebatas pengetahuan saya yang dangkal, ada beberapa prinsip dan pengetahuan yang harus selalu kita pegang teguh.

Pertama, dunia politik sejatinya dunia amanah. Kita yang masuk dalam gelanggang politik memasuki medan yang mensyaratkan integritas dan moralitas menjadi mata uang paling bernilai. Ini disebabkan politik memberi kita kuasa untuk mengelola urusan publik. Dan selalunya pengawasan di ruang publik jauh lebih longgar dibandingkan ruang privat. Pertanggung jawaban ABPN atau APBD (entah karena jumlah yang besar atau rumit—atau dibuat rumit) jauh lebih kompleks ketimbang pertanggung jawaban sebuah Rencana Belanja dan Pendapatan Tahunan sebuah perusahaan. Belum lagi jebakan labirin kekuasaan dan perizinan yang sering menjadi celah kebijakan pejabat publik lebih memihak mereka yang bayar ketimbang menjaga kepentingan publik. Dalam beberapa kasus, kepentingan publik jangka pendek tidak terganggu dan semua seolah mengikuti prosedur, namun qolbu seorang mukmin mestinya tahu ini tidak sesuai dengan sumpah jabatan karena dapat memperkaya seseorang atau pihak lain. Jadi, moral, etika dan integritas (dalam bahasa seserhana: IMAN) merupakan tangga utama menuju masa depan.

Kedua, ‘craftmanship’, keterampilan mengelola satu atau dua isu yang dapat memberi trade mark dan penisbatan pada kita. Jokowi dan Risma punya trade mark pasar tradisional dan taman serta kali yang rapi. Bupati Yoyok dinisbatkan anti korupsi karena transparansi anggaran. Ahok tegas dan berani baik kasus APBD ataupun maju independen. Ridwan Kamil urus taman Kota Bandung. Semua seperti mudah dan sederhana. Padahal, ada banyak persiapan, ide, para pihak yang terlibat dan perhitungan detail yang harus dilakukan. Bukan semata untuk pencitraan tapi untuk mewujudkan sebuah mimpi dan harapan publik. Masyarakat haus pada air bersih, sekolah berkualitas yang terjangkau hingga sampah yang terkelola dengan baik. Masa depan politik Indonesia terletak pada siapapun yang mampu memberi fakta pada harapan sederhana publik.

Terakhir, mental melayani. Sayyidu qaum khadimuhum… pemimpin satu kaum adalah pelayan kaum tersebut. Itulah yang dicontohkan salafus shaleh seperti Umar bin Khatab yang rela hirosah (ronda) untuk melayani rakyatnya. Begitupun dengan cicitnya, Umar bin Abdul Azis, yang setiap akan tidur selalu bertanya; apa yang aku jawab saat Tuhanku bertanya bagaimana pelayanan pada rakyatku. Bersahaja, bermoral dan amanah serta menjaga hal ihwal rakyat dan publik, dengan melupakan diri sendiri atau menjauhkan diri dan juga keluarga dari kekuasaan. Adalah episode indah saat Khalifah Umar bin Abdul Azis mematikan lampu milik negara seiring datangnya anggota keluarganya untuk membincangkan urusan yang bukan urusan negara.

Masa depan politik Indonesia kian membuat kita butuh kembali pada nilai-nilai keikhlasan, pelayanan, membenamkan diri dan nafsu hingga disiplin untuk selalu memberikan yang terbaik bagi umat, bangsa dan negara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s