Membangun Komunikasi Politik

Salah satu petuah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam yang sangat terkenal adalah, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berkata baik atau diam.” Bahkan Al-Qur’an memberikan banyak terminologi terkait dengan ‘perkataan’ ini: Qaulan Layyina (perkataan yang lembut, QS. 20: 44), Qaulan Sadida (Perkataan yang jelas, QS. 4:9), Qaulan Ma’rufa (Perkataan yang baik, QS. 4: 5), dan Qaulan Kariima (Perkataan Mulia, QS. 17: 23). Jika merujuk pada nash Al-Quran tidak kurang ada enam jenis perkataan yang berbeda-beda maksud dan penggunaannya. Karena itu tak heran baginda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan kita,ن

احفظ لسانك

Jagalah Lisanmu! (HR. Ibnu Asakir)

Dalam konteks inilah, saya diminta Pesiden PKS M. Sohibul Iman untuk menemani beliau bertemu dengan Pak Jokowi. Mestinya Ustadz Taufik Ridho sebagai Sekertaris Jenderal yang menemani beliau, namun Ustadz Taufik berhalangan karena sedang mengikuti sebuah acara di luar negeri. Melalui tulisan ini ada beberapa hal yang ingin saya share sebagai bahan pelajaran bersama.

Pertama, sudah menjadi doktrin kita bahwa nahnu duat qobla kulli syaiin, kita ini da’i sebelum dikenal dalam berbagai profesi apa pun. Karena itu partai kita disebut Partai Dakwah, karena pada hakekatnya kita ingin menjadikan partai ini sebagai sarana amal sholeh dan dakwah. Salah satu sarana dakwah yang baik adalah berkomunikasi dengan berbagai Qaulan diatas.

Sebelum memiliki partai, ruang dakwah kita terbatas. Sekarang dengan adanya Partai, medan dakwah kita meluas. Dulu zaman kita berkoalisi dengan Pak SBY, ada banyak kebijakan publik yang senafas dengan syariat dan berbagai kepentingan umat yang dapat kita perjuangkan. Dalam konteks inilah, walaupun kita tegas menyatakan tetap berada diluar pemerintahan, tapi tidak menghalangi kita memberi masukan pada Pak Jokowi apa saja suara publik, suara umat yang dititipkan kepada beliau. Karena kita percaya, dengan kekuatan akhlaq dan hujjah kita, posisi di dalam atau di luar pemerintahan tidak menghalangi efektivitas kita mengawal agenda dakwah dan umat.

Kedua, kita perlu mizholah siyasiyah (payung politik). Hasil syura memutuskan Koalisi Merah Putih (KMP) menjadi pilihan kita. Walaupun demikian, dengan tetap memegang teguh etika koalisi kita dengan KMP —ini dibuktikan dengan kehadiran dan kontribusi kita selama dua tahun keberada-anya— tidak menghalangi kita untuk berkomunikasi dengan pihak atau partai di luar KMP. Tentu sejalan dengan kebijakan besar kita untuk kepentingan bangsa yang lebih besar. Plus mengirim pesan pada semua pihak baik di KMP, Pemerintah, media, hingga publik, bahwa kita punya kebijakan partai sendiri yang mesti dihormati dan tidak otomatis harus seragam serta sama dengan pihak manapun. Apalagi, disadari bahwa membangun koalisi strategis dan permanen masih jauh dari harapan. Dengan begitu sebagai partai politik kita pun tidak terkunci atau terkucil sendirian. Sebenarnya ini adalah hal yang wajar dan dilakukan oleh banyak partai. Kecuali kita ada dalam koalisi strategis dan ideologis.

Dalam pandangan pribadi, karena bukan koalisi strategis dan ideologis, tapi mendekati bentuk koalisi strategis-pragmatis, beberapa keputusan KMP pun tidak populer di mata publik. Misalnya pernyataan bersama pada 20 November 2015 yang cenderung mendukung Setya Novanto dengan prinsip right or wrong is my KMP, sebetulnya kurang sejalan dengan idiluu huwa aqrobu lit taqwa —berlaku adillah karena adil itu lebih dekat kepada taqwa.

Ketiga, ini sedikit personal, saya pribadi sejak dulu dikenal —dengan olok-olok tentunya— sebagai Jokowi Lover: pendukung Jokowi. Ada beberapa yang sering saya sampaikan tentang ‹kelebihan› Jokowi. Beberapa sudah saya sampaikan pada tulisan awal di Al-Intima’. Diantaranya dalam Tsunami Jokowi (ditulis dua tahun sebelum Pilpres 2014 sesaat setelah Jokowi menang Pilgub DKI 2012 lalu). Prediksi saya terbukti dengan kemenangan Jokowi di 2014. Yang ingin saya sampaikan adalah bahwa buat publik sederhana: likulli marhalah rijaaluha (dalam tiap tahapan ada rijal [orang-orang]-nya). Banyak yang meragukan bahkan memandang Jokowi dengan selalu mengungkap kelemahan dan kesalahannya, yang dalam beberapa hal ada yang serius, tapi selalunya hal sepele. Misalnya salah sebut tempat lahir Bung Karno di Blitar padahal seharusnya Surabaya. Atau yang terakhir, saya belum cek kebenarannya dan dianggap benar, beliau menyebut Merauke sebagai Ujung Barat Indonesia. Ini memang salah. Tapi bandingkan dengan fokusnya memperbaiki infrastruktur, memutus rantai beban subsidi yang tidak efektif hingga ketahanannya untuk selalu turba (turun ke bawah) mulai Iedul Adha di Aceh (belum ada lima Presiden terakhir melakukan ini), natal dan tahu baru di tanah Papua dan Hari Pahlawan di Aceh. Belum lagi target dana desa yang sekarang sudah di angka 660 juta per desa pada tahun 2016.

Dalam pertemuan, Pak Jokowi menyampaikan keinginan sederhananya ingin hanya 10% di Istana dan 90% di lapangan. Beberapa pihak berpendapat Jokowi sudah gagal dalam tahun pertama, jangankan bicara lima tahun. Tapi saya berpendapat sebaliknya. Memang banyak kelompok sudah mengelilingi beliau, tapi itulah hakikat kekuasan. Intinya, hubungan dengan Jokowi sekarang dan akan datang dapat membawa kebaikan selama dilakukan dengan niat tulus, transparan dan untuk kepentingan organisasi.

Keempat, sesuai dengan sunnah Nabi shalallahu alaihi wa sallam, silaturahim adalah perbuatan mulia. Banyak musuh jadi kawan dan simpatisan jadi kader dengan senjata silaturahim. Tentu silaturahim yang tulus, bermartabat dan untuk kepentingan bangsa dan negara. So, tahaaddu tahaabbu, saling memberilah maka kalian saling mencintai. DPP sudah memberi contoh, keluarlah dari mihrab kalian wahai pencinta Ilahi. Karena medan amal kita adalah bersama para penghuni bumi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s