Membangun Good Party Governance

Selama empat kali pemilu sejak reformasi, Indonesia menyaksikan pemenang baru tiap lima tahun. Tahun 1999, PDIP pemenangnya, disusul Golkar pada 2004 dan Demokrat pada 2009. Tahun 2014 PDIP kembali menjadi pemenang. Selalu ada pemenang baru dalam setiap pemilu menunjukkan salah satu karakter demokrasi kita: belum kokohnya party ID (ikatan voters kepada partai). Dalam sebuah penelitian, terungkap data 78% pemilih di Indonesia terkategori floating mass (pemilih mengambang). Ini salah satu sebab kenapa sejak reformasi belum ada partai yang mampu mempertahankan kemenangannya. Plus semakin kesini persentase kemenangan partai mentok diangka 20-an persen. Bahkan PDIP menjadi pemenang pada 2014 pada kisaran 16%.

Kondisi ini kian menantang jika kita melihat ada perubahan demografi dan tingkat sosial ekonomi masyarakat. Mengacu pada definisi kelas menengah —mereka yang berpenghasilan US$ 2 – 20/hari— tidak kurang dari 134 juta penduduk Indonesia saat ini terkategori kelas menengah. Fakta ini didukung oleh realita kian menguatnya ikatan komunitas dan belanja konsumsi kebutuhan sekunder mulai dari kosmetik, alat olahraga hingga traveling. Salah satu ciri kelas menengah adalah adanya karakter independen dan tidak mengikuti pola tradisional. Dari pola hubungan hierarki (atasan-bawahan hingga sikap feodal) menjadi pola hubungan net-working yang berciri kesederajatan dan egaliter. Dalam konteks inilah tantangan bagi Partai Politik untuk membangun pola hubungan yang stabil dan loyal dengan pemilihnya.

Lalu bagaimanakah kondisi PKS dengan landscape ini? Di tahun 2009, dengan tingkat loyalitas men-dekati 76% (baca: 76% pemilih PKS akan memilih PKS kembali pada pemilu akan datang), PKS memiliki kondisi yang menurun dengan angka mendekati 64% menjelang pemilu 2014. Dan itu terkonfirmasi dengan turunnya perolehan kursi PKS kurang lebih 29% dari 57 ke 40 kursi di 2014. Lalu apa langkah yang dapat dilakukan oleh Partai Dakwah ini?

Pertama, tidak ada ikatan yang kuat antara voter dan Parpol kecuali melalui proses mutualisme simbiosis. Tidak mungkin bertepuk sebelah tangan. Artinya dari sudut Parpol mestilah mampu mempesona publik. Baik dengan pelayanan, pemberdayaan ataupun pembelaannya pada rakyat. Hal itu secara masif dilakukan baik oleh partai dan pimpinan partainya dan juga oleh kader partai yang ada di jabatan publik. Baik legislatif maupun eksekutif. Semua mengikuti garis ideologi dan karakter partai dakwah yang bersih, peduli dan profesional. Tapi pada saat yang bersamaan voters pun mendapatkan pendidikan politik yang memadai sehingga dapat berpartisipasi aktif dengan cara yang dewasa dan menolak tegas money politic. Memang dengan pendapatan perkapita US$ 3000 kita masih jauh dari syarat ideal demokrasi akan hidup dan berkembang dengan normal (tanpa penyimpangan) di masyarakat yang berpenghasilan US$ 6000/ tahun. Namun dengan kian mudahnya akses publik kepada media yang fair dan independen kondisi belum ideal itu dapat ditutup.

Kedua, adagium, “How can you govern your country if you cannot govern your party.” Bagaimana kita dapat mengelola negara jika kita tidak dapat mengelola partai kita. Dalam konteks itulah, PKS pada Munas IV nya pertengahan September 2015 mengangkat terminologi Good Party Governance (GPG). Ini adalah resolusi bagi niat PKS untuk membenahi diri menjadi partai yang berorientasi pada values (nilai) dan benefit (kemanfaatan). GPG adalah niat PKS menjadi partai yang bukan membebani rakyat dan negara tapi menjadi partai yang mampu—diantaranya menerapkan Prinsip 4E: Efisien, Efektif, Ekonomis dan Etis. Bahwa PKS harus menjadi partai yang meminimalkan pengeluaran hingga benar-benar dapat menjaga keberkahan aktivitasnya karena menjaga dana-dana haram dan syubhat masuk dalam membiayai partai. Alih-alih di hotel mewah, jajaran Pimpinan PKS menyelenggarakan Munas nya di Bumi Perkemahan Cibubur dan Hotel Bumi Wiyata di Depok. PKS pun membiayai kegiatan Munasnya dengan Galibu (Gerakan Lima Puluh Ribu) yang alhamdulillah dapat mengumpulkan 2.8 M dana publik dan kader yang berasal.dari 39.500-an penyumbang dengan rata-rata sumbangan Rp 60.000,-. Dan PKS pun mempublikasikan dalam website pks.or.id rincian pemasukan dan pengeluaran Munas IV itu. Semua dalam rangka agar dipercaya publik kita wajib menerapkan GPG. Ada akuntabilitas, transparansi, partisipasi publik dan kesiapan untuk berubah, karena partai bukanlah kendaraan bagi pengurus untuk mengejar kemenangan dan kekayaan, tapi merupakan wadah perjuangan, tempat pengorbanan dan kerja diberikan. Dan alhamdulillah, dalam waktu satu bulan setengah terjadi proses regenerasi dan penyegaran barisan kepemimpinan partai di tingkat provinsi melalui Pemilu Internal yang berjalan dengan lancar, aman dan dapat memberi contoh betapa tidak ada politisasi, keinginan melanggengkan kepengurusan dan lain lain.

Ketiga, GPG tidak akan berjalan kecuali ada political will dari pimpinan teras Partai. Alhamdulillah baik Ustadz Salim Segaf Al Jufri sebagai Ketua Majelis Syuro, Ustadz Hidayat Nur Wahid sebagai Wakil Ketua Majelis Syuro ataupun Presiden Partai Ustadz Sohibul Iman, memberi contoh bagaimana kesederhanaan, kebersahajaan, fungsionalitas dan sentuhan kemanusiaan serta ukhuwah menjadi cerita harian. Naik pesawat kelas ekonomi dan mengantri serta menginap di rumah kader dalam setiap kunjungan merupakan standar yang dijalankan. Mengunjungi office boy DPP dan kader di tingkat DPRa yang sakit merupakan cerita yang beredar di kalangan kader tanpa rekayasa, tapi semata rasa tanggung jawab. Dalam kondisi ini, tidak heran para asatidz yang lama tidak turun gunung kini berlomba lomba memberi kontribusi bagi terwujudnya PKS sebagai partai yang memiliki jatidiri dan karakter Bersih Peduli dan Profesional.

Masih panjang jalan yang mesti ditempuh. Tapi dengan merekahnya akhlaqul karimah melalui contoh teladan para pemimpinnya, menjadikan seluruh kader fokus pada kerja harian dalam melayani rakyat, sementara kemenangan politik adalah bonus dari Allah Ta’ala dan mesti dicapai melalui perjuangan yang bermartabat dan menjaga keberkahannya. Kami meyakini bahwa keikhlasan, ketawadhuan, ketekunan dan pengorbanan adalah jalan terindah bagi menegakkan panji Islam melalui perjuangan siyasah. Semoga Allah Ta’ala menjaga dan memberkahi semua gerak kita. Amin ya Rabbal Alamin….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s