Suksesi PKS: Jundi, Ibadah, dan Kontribusi

Beberapa media menyebut pergantian pimpinan di PKS sebagai revolusi senyap. Disebut revolusi karena terjadi perubahan pada pucuk pimpinan PKS dari Ustadz Hilmi kepada Ustadz Salim sebagai Ketua Majelis Syuro dan dari Ustadz Anis kepada Ustadz Iman sebagai Presiden Partai.

Disebut senyap karena Musyawarah Majelis Syuro PKS ke-1 untuk masa khidmat 2015-2020 memang jauh dari hingar-bingar pemberitaan media. Di partai lain pergantian pimpinan selalu berlangsung tegang. Kadang membawa perpecahan. Tapi di PKS, Alhamdulillah, semua berlangsung dalam siklus yang tenang dan stabil. Sejak era Ustadz Nur Mahmudi kepada Ustadz Muzammil Yusuf, kemudian kepada Ustadz Hidayat Nurwahid, berpindah kepada Ustadz Tifatul Sembiring, dilanjutkan Ustadz Luthfi Hasan Ishaq, dan terakhir diemban oleh Ustadz Anis Matta; semua berlangsung tenang dan stabil. Satu lagi, jika di partai lain pergantian terjadi di Musyawarah Nasional (Munas), di PKS Munas justru berfungsi mengumumkan hasil kepengurusan baru, karena penetapan kabinet pengurus yang masuk Dewan Pengurus Pusat (DPP), Majelis Pertimbangan Pusat (MPP) dan Dewan Syariah Pusat (DSP) dilaksanakan selalunya pada Musyawarah Majelis Syuro.

Saya tidak akan membahas kenapa Ustadz Hilmi diganti Ustadz Salim, dan Ustadz Anis diganti Ustadz Iman, karena bagi kader PKS siapapun yang ditetapkan Majelis Syuro untuk menakhodai kapal ini, isya Allah, merekalah yang dianggap paling sesuai dengan target yang sudah ditetapkan. Bagi kader PKS, dengan sistem pembinaan intensif yang menjadi ciri khasnya, siapapun pimpinan yang ditetapkan, isya Allah, mereka sudah melalui tangga pembinaan yang telah lama berlangsung. Untuk menjadi Anggota Ahli urut-urutan normal seorang kader selalunya dimulai dengan menjadi Anggota Pemula sekitar satu tahun, kemudian Anggota Muda sekitar dua tahun, mengikuti proses pembinaan level Anggota Madya antara 2 – 3 tahun kemudian menjadi Anggota Dewasa 2 – 3 tahun, dan menjadi Anggota Ahli antara 2 – 3 tahun. Jadi total waktu pembinaan seorang kader PKS setidaknya antara 9 – 12 tahun. Jadi, siapapun yang dipilih insya Allah up to standar, memenuhi syarat yang diperlukan untuk membawa PKS menjadi Partai Islam rujukan baik dalam hal nilai ataupun kepercayaan publik.

Yang perlu kita ambil pelajaran, dan ini mahal harganya, adalah bagaimana para qiyadah (pimpinan) PKS dapat melakukan sirkulasi kepemimpinan dengan nyaman dan elegan. Mengutip pengantar Ustadz Hilmi saat Konferensi Pers sesudah Majelis Syuro, ”Sudah lama saya menunggu generasi ini, saya sebut generasi up coming, untuk melanjutkan pekerjaan yang selama ini diemban saya.”. Pada saat itu pula Ustadz Anis Matta menegaskan bahwa organisasi yang besar akan selalu menempatkan organisasi diatas individu. Pada acara Silaturahim Pengurus DPP, MPP dan DSP yang diselenggarakan pada Kamis 20 Agustus 2015, Ustadz Anis Matta menegaskan kembali betapa organisasi harus diatas individu dan pada dasarnya semua kita adalah jundi yang siap menerima penugasan dimanapun.

Ustadz Hilmi dan Ustadz Anis Matta memberikan contoh, bahwa kedudukan atau jabatan adalah amanah yang tidak ada kaitannya dengan individu-individu tertentu. Pribadi dalam konteks jamaah adalah variabel tidak bebas, sementara itu kepentingan jamaah adalah variabel bebas yang menentukan jalan serta arah perjuangan. Oleh karena itu sudah selayaknya kita semua mengambil pelajaran yang mendalam terhadap teladan ini. Karena pada kenyataannya, dua ustadz ini sangat dicinta dan telah memberi banyak kontribusi bagi perkembangan jamaah. Khususnya Ustadz Anis Matta yang mampu menakhodai perahu ini melalui badai yang cukup besar sebelum Pemilu 2014. Tapi kebesaran individu, kecintaan kader hingga rekognisi publik tidak menghalangi Partai untuk membuat pergantian yang tentu-nya dengan alasan yang kuat, jelas dan mempertimbangkan banyak hal. Pertanyaannya What Next?

Kang Iman, sebutan akrab Ustadz Mohamad Sohibul Iman, dalam taujih pertamanya menjelaskan tentang 4 visi yang mesti kita pahami bersama. Pertama, adalah Visi Pembinaan. Bahwa PKS adalah Partai Kader dan Partai Dakwah. Karena itu, karakteristik kader PKS mesti membawa dua entitas ini: ‘kader’ (yang bermakna jundi-prajurit yang memiliki karakteristik mengikuti muwashofat yang tegas dan militan serta pruden) serta ‘dakwah’ bahwa ‘nahnu du’at qobla kulli syai’in’. Karena itu pembinaan menjadi tulang punggung utama. Kedua, Visi Kelembagaan. Struktur Partai kita mesti mampu memberikan pesona dalam hal pelayanan, advokasi dan keteladanan. Karena itu Struktur Partai yang Profesional mulai dari atas hingga ke level terbawah mesti mampu diwujudkan. Interaksi publik dan kader pada struktur mesti memberikan kelapangan dan kenyamanan pada kader dan publik. Ketiga, Visi Kebangsaan. Dimana PKS dituntut memberi kontribusi bagi mewujudkan Indonesia sebagai negeri sejahtera yang diredhoi Allah, badatun thoyyibatun wa rabbun ghofuur. Tentu PKS tidak dapat sendirian, karena itu Kang Iman menyerukan agar setiap kader dan struktur selalu membersamai masyarakat. Dalam bahasa Ketua Majelis Syuro, “Nahnu minhum, nahnu ma’ahum wa nahnu lahum” (kita ini ada dari, bersama dan untuk masyarakat). Karena itu sejak awal, Kang Iman membuka komunikasi dengan semua pihak termasuk dengan kelompok bukan Islam karena merekapun merupakan bagian dari Indonesia. Dan Visi keempat adalah Visi Peradaban; selesai dengan urusan pribadi, struktur dan bangsa maka kiprah kita selanjutnya menjadi kontributor peradaban dunia. Keempat visi ini tidak akan mudah. Dan karena itu kita dituntut untuk ikhlas, ihsan dan itqon (profesional) dalam beramal.

Agenda selanjutnya adalah memutar mesin Partai ini untuk menghasilkan energi kebaikan. Target pertumbuhan kualitas dan kuantitas kaderisasi, peningkatan kapasitas struktur, robtul ‘am yang membebaskan kader keluar dari kungkungannya—seperti harimau keluar dari kandangnya—hingga mengokohkan ekonomi kader dan peran sosial kader di semua bidang yang pada akhirnya akan memberi kontribusi bagi wujudnya Partai sebagai pengejawantahan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin….

Dalam waktu dekat, keberhasilan konsolidasi kita diukur sebagiannya melalui prestasi pada Pilkada Serentak 9 Desember 2015. Tentu bukan semata kemenangan yang dikejar, tapi yang diharapkan adalah kemenangan yang mengokohkan kader, kemenangan yang berkah, dan kemenangan yang menjadi alat untak memajukan rakyat. Ini jauh lebih berat dari sekedar kemenangan politik. Dan karena itu, modal utama dimulai dari taqarrub ilallah, akhlaqul karimah hingga jiddiyah (kesungguhan) dan tadhiyyah (pengorbanan) mesti kita tingkatkan sejak dini. Fokus pada proses dan cermat serta detail dalam pelaksanaan, merupakan teladan yang sudah diberikan oleh para pendahulu kita, mulai zaman baginda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam di medan Badar hingga Muhammad al-Fatih saat menaklukkan Kosntantinopel.

Kinilah saatnya kita merapihkan dan membersihkan diri dan keluarga untuk berkhidmat pada rakyat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s