Menembus Batas Pertumbuhan

Bulan lalu ada dua postingan di medsos yang menarik perhatian. Pertama adalah ilustrasi Peter Goldwin dari Wetpaint bahwa something interesting is hapening tatkala menjelaskan fenomena Facebook sebagai the world’s most popular media owner creates no content dan Airbnb sebagai world largest provider accomodation, own no real estate. Ditambah dengan fenomena toko Alibaba dan perusahaan taksi global Uber. Goldwin menjelaskan bahwa pola berpikir masa lalu banyak yang usang. Tiap hari jutaan orang mengakses facebook padahal tidak ada content yang dibuat Facebook kecuali interaksi antar anggota. Belum lagi ditambah fenomena pertumbuhan google yang dalam tujuh tahun mampu menyaingi pertumbuhan General Motor selama 150 tahun, “Sesuatu yang menarik sedang terjadi.”, kata Goldwin.

Postingan kedua, masih perlu diklarifikasi karena beberapa waktu kemudian ada berita yang menegasikannya, adalah saat Republika Online menurunkan tulisan pasca Munas Partai Bulan Bintang yang menyebutkan bahwa IBF (Islamic Bussiness Forum) yang diklaim sebagai forum pengusaha muda muslim yang memiliki 500 ribu anggota, membuat aliansi strategis bersama membangun umat. Setiap anggota IBF juga anggota PBB. Bahkan berita tersebut menulis dengan angle jangan meremehkan PBB yang mendapat tambahan darah segar pengusaha di seluruh Indonesia. Jika aliansi itu benar terbentuk, boleh jadi kejadiannya hampir mirip Axis yang diakuisisi XL, sehingga menjadikan kedua-nya mendapat keuntungan bersama. Akhirnya, Axis menjadi perusahaan telekomunikasi kedua terbesar melewati Indosat.

Apa yang ingin digaris bawahi dari dua fenomena diatas adalah you cannot find a new land with an old map, “Anda tidak dapat menemukan pulau baru dengan peta yang lama.” Perluas dulu peta Anda, maka pulau (peluang, kesempatan dan kebaikan) baru akan kita dapatkan.

Dahulu kita meyakini bahwa merubah Indonesia harus dengan mentarbiyah rakyat kita. Tapi beberapa kelompok kreatif sudah nenunjukkan bahwa dengan pola yang tepat kita dapat menggiring, mengarahkan, bahkan memerintah tanpa disadari alam pikiran, termasuk alam bawah sadar masyarakat termasuk jiwanya, untuk bergerak dan berperilaku sesuai kehendak kita. Kisah sinerginya message (pesan) dan messanger (pembawa pesan) dalam kisah kemenangan Jokowi menjadi satu bukti kecil kreativitas dan inovasi sangat menentukan dalam pertarungan ke depan.

Dalam konteks inilah, PKS sebagai partai dakwah sebenarnya memiliki peluang besar untuk beyond political party. Komunitas yang dibangun PKS jauh lebih kuat dan solid dibanding partai politik semata. Ada ikatan ideologis, ada interaksi dinamis dan ada sinergi yang luar biasa diantara kader. Namun sepeti yang Goldwin katakan, ada fenomena yang berubah. Maka, kemampuan kita mengendalikan dan mengarahkan masyarakat menuju tadayyun sya’bi (masyarakat yang religius), misalnya, harus sebanding dengan kemampuan kader dan institusi PKS mempesona publik.

Karena itu ada dua jenis pekerjaan kita: melahirkan kader dengan kualitas dan integritas unggulan yang mampu mengeksekusi strategi dan program, serta mengeluarkan kader unggulan ini ditengah masyarakat. Kalau mengambil perumpamaan batu akik yang sedang ngetrend, sebagus apapun bacan, sungai darah, pancawarna atau solar aceh—ketika tidak digosok dan dibentuk dia belum mampu mempesona publik. Karena itu pula karakteristik tarbiyah yang melahirkan kader militan sekaligus berwawasan luas dan berlapang dada menjadi program utama. Kaderisasi, Bidang Perempuan, Bidang GMPro hingga Kepanduan ditambah Bidang Kepemimpinan mesti mampu bersinergi. Yang berikutnya progran rabtul aam, yaitu dengan menjadi pelayanan masyarakat dari tingkat RT, RW atau DKM, jika mampu menjadi Kepala Desa, mesti ditargetkan. Tentu ada feedback control termasuk dalam berta’awuun dengan harokah Islam yang lainnya.

Satu proposal lain mungkin memberi ruang yang lebih longgar bagi kegiatan membuka aliansi strategis di medan siyasi dengan pada saat yang sama tidak menjadikan medan siyasi menjadi the one and only bidang garap kader. Memberi kesempatan kepada kader terbaik bangsa dan kader terbaik umat untuk bersinergi membangun bangsa melalui PKS bisa jadi sebuah keniscayaan. Pepatah, “Berapa banyak mereka yang bersama kita tapi berada di luar kita,” dapat kita terapkan. Apatah lagi memang memimpin itu sebuah seni yang,”you cannot train a duck to fly.” Sementara itu, kader yang bergerak dibidang kemanusiaan, menghasilkan sekolah unggulan, membangun desa teladan, hingga Pos Wanita Keadilan yang produktif menjadi medan yang sama harum dan pentingnya dengan mereka yang terlibat di medan politik.

Untuk menemukan pulau baru, kita harus memperluas peta kita. Kian lambat kita memperluas horizon kita, kian kecil peluang kita membesar karena boleh jadi kelompok lain sudah menemukan pulau terlebih dahulu. Wallahu a’lam bishawab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s