Pro Active Political Party

Selama dua pekan, sejak akhir Januari hingga awal Februari, saya mendapat undangan kunjungan ke Malaysia—Kuala Lumpur, Negeri Sembilan, Selangor, Johor—dan terakhir mampir di Singapura. Disana, saya banyak melakukan pertemuan dengan para aktivis gerakan Islam, termasuk mereka yang aktif di Partai Politik. Di Malaysia, selain bertemu dengan para aktivis PAS (Partai Islam Se Malaysia), saya juga bertemu dengan para aktivis PKR (Partai Keadilan Rakyat) dan DAP (Democratic Action Party), plus bertemu dengan beberapa NGO. Fokus perhatian dan perbincangan seringkali menyinggung tentang bagaimana Partai Politik mampu menjawab tantangan zaman agar menjadi tumpuan dan harapan publik dalam membangun bangsa.

Walaupun Malaysia dan Singapura telah maju—bahkan relatif lebih maju dari Indonesia, namun kami sepakat, dalam kondisi zaman yang terus dinamis dan berkembang, tetap diperlukan partai politik berkualitas yang mampu memberikan jawaban atas persoalan rakyat, serta memberi bukti bahwa bangsa ini menjadi lebih maju dan sejahtera. Hadirnya partai politik yang mampu memberi solusi, plus mempesona publik—karena integritas dan kualitasnya— niscaya akan meningkatkan party ID dalam masyarakat. Party ID ini, dalam bentuk hubungan yang kokoh dan positif antara publik dan partai, akan membawa dampak terwujudnya low cost democracy yang baik bagi kemajuan bangsa.

Tantangannya jelas: tingkat kepuasan publik terhadap partai dan politisi serta parlemen termasuk yang memiliki nilai terendah. Karena itu PKS berkewajiban memberi contoh bagaimana mampu menghadirkan tingkat Party ID yang tinggi. Setidaknya ada empat faktor utama yang dapat meningkatkan rasa kepuasan publik kepada partai.

Pertama, mewujudkan island of integrity Party. Partai dengan ‘Pulau Integritas’ adalah partai yang dapat menunjukkan betapa kader, para pengemban amanah di legislatif dan eksekutif adalah mereka yang memiki integritas: bersatunya kata dengan perbuatan. Korupsi adalah kejahatan dan kita wajib memerangi semua jenisnya. Termasuk mengambil sikap bara (berlepas diri dan tidak berhubungan) dengan para pelaku korupsi. Kebijakan partai pun harus sangat tegas memerangi korupsi. Tidak mengendorse siapapun calon pejabat negara yang terindikasi korupsi, apatah lagi tersangka korupsi.

Integritas adalah ciri seorang mu’min, karena kata Nabi Shalallahu Alaihi Wasalam, “Iman itu Amanah.” Oleh karena itu, sikap dan kebijakan partai secara tegas harus menunjukkan betapa partai dakwah ini mampu menyuarakan hadits, “Barangsiapa diantara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangan. Jika tidak mampu, ubahlah dengan lisan, dan jika tidak mampu ubahlah dengan hati. Itulah selemah-lemah iman.”

Kedua, mewujudkan merit system dalam partai. Merit system adalah perekrutan kader dan proses pelahiran pemimpin bangsa berbasis kapasitas dan kemampuan. Kader dengan kualitas terbaik mendapat kesempatan mendapatkan proyeksi, promosi dan nominasi. “You cannot train a duck to fly,” Kita tidak dapat mendidik bebek untuk terbang, karena memang cuma elang atau burung saja yang dapat terbang. Maka mesti ada sistem, prosedur dan proses yang memberi kesempatan bagi kader berkualitas untuk didorong dan dibantu menjadi wakil partai dalam mengelola negara. Kalimat, “How can you govern your country if you cannot govern your party,”, layak kita kenang selalu. Nabi Shalallahu Alaihi Wasalam mengatakan, “Tidak beriman seorang yang memilih seseorang, sementara ada orang lain yang lebih baik darinya untuk satu jabatan.”

Ketiga, mewujudkan Pro Aktif Political Party. Salah satu alasan mengapa begitu cepatnya pembangunan Singapura adalah kemampuan Lee Kuan Yew mewujudkan People Action Party (PAP) bersikap pro aktif, yakni dengan merekrut the best people on their field (orang-orang terbaik pada bidangnya) untuk ditempatkan pada pos-pos yang akan mengurus urusan publik. Berkaitan hal ini, kita mengenal kaidah faqidusy sya’i la yu’thi…siapa yang tidak memiliki sesuatu tidak akan dapat memberi sesuatu.

Mengendalikan urusan publik (baik kepala daerah, kementerian atau wakil legislatif) bukanlah urusan yang dapat dijadikan bancakan tanpa pengetahuan. Stephen Covey menyebutkan ada tiga unsur keunggulan: tahu (knowledge), mau (desire) dan mampu (able). Iman Hasan Al Banna pun mengingatkan kita, “kam minna walaisa fiina”, berapa banyak mereka yang bagian dari kita tapi tidak bersama kita.

Partai yang pro aktif tidak akan sibuk mengelilingi kekuasaan dan membagi-bagikannya diantara mereka, walau mereka sudah menang pemilu. Tapi mereka akan membuka pintu selebar-lebarnya pada orang-orang terbaik untuk bergabung mengelola dan memajukan negeri ini. Tujuan dakwah bukanlah untuk berkuasa. Itu sebatas wasilah (sarana). Tujuan dakwah yang hakiki adalah iqomatuddin, tegaknya nilai ilahiyah menjadi pedoman dan praktek keseharian di seluruh level kehidupan.

Tiga pekerjaan ini menjadi tugas kita bersama. semoga Allah SWT memudahkan para qiyadah untuk memutuskan yang terbaik bagi partai dakwah ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s