Pemimpin: Membangun Masa Depan

Setiap pemimpin pasti akan dinilai, dikritik dan dianalisa semua kebijakan dan eksekusinya. Dan seringnya, penilaian objektif terjadi justru puluhan tahun setelahnya. Sukarno, Suharto, Habibie dan juga Gus Dur mulai terlihat jelas posisi dan kontribusinya lama sesudah mereka tidak lagi menjabat.

Karena itu setiap pemimpin yang sukses biasanya tidak sibuk bermanuver sesuai arah angin. Tapi selalu fokus pada visi dan misi yang jelas. Pada satu sisi, menjadi pemimpin memang sepenuhnya tunduk pada hukum dasar mencari dan menemukan apa yang terbaik bagi orang yang dipimpinnya. Tapi di sisi lain; strategi, gaya dan cara yang ditempuh melulu merupakan pilihan pribadi atau preferensi sang pemimpin.

Begitulah. Seorang penanggung jawab di Setneg mengatakan, pertama kali dalam sejarah wartawan bisa menyorongkan mike hingga mulut Presiden Jokowi. Seperti juga pertama kali Presiden menerima tamu negara dengan baju putih lengan panjang yang digulung. Tanpa jas dan tanpa dasi. Begitulah, pada akhirnya sistem harus melayani sang pemimpin. Bukan sebaliknya.

Karena itulah Islam sejak awal menegaskan betapa kualitas kepemimpinan sangat menentukan. Karena itu pula, tarbiyah qiyadiyah (pendidikan kepemimpinan) menjadi salah satu tema dasar dalam sistem tarbiyah Islamiyah bersama dengan tarbiyah jihadiyah.

Baginda Nabi Shalallahu Alaihi Wasalam mencontohkan betapa fokus pada kaderisasi kepemimpinan membuat stok pemimpin di zaman Nabi Shalallahu Alaihi Wasalam amat berlimpah. Hingga seorang Usamah bin Zaid, saat berusia 17 tahun telah mampu menunaikan amanah kepemimpinan pasukan besar beberapa saat sebelum Rasul mangkat. Pun seorang Umar bin Khattab yang sangat kuat karakter kepemimpinannya, disiapkan menjadi pemimpin tanpa pernah sekalipun ditugaskan menjadi ketua tim, pemimpin saraya ataupun ghazwah selama Rasul Shalallahu Alaihi Wasalam hidup. Tak lain karena Nabi Shalallahu Alaihi Wasalam ingin mengajarkan bahwa tidaklah seseorang dapat menjadi pemimpin yang baik sebelum menjadi prajurit yang baik. Sisi jundiyah yang kuat menjadi landasan sisi qiyadiyah yang kuat dan melayani.

Karena itu selama 13 tahun kepemimpinannya, Umar radhiyallahu ‘anhu amat sangat menonjol sisi kekuatan dan pelayanannya. Begitupun dengan Khalifah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu tegas menjalankan prinsip, “Orang yang kuat di sisi kalian akan menjadi orang yang lemah. Dan orang yang lemah diantara kalian akan menjadi orang yang kuat.”

Dengan kejernihan dan sikap adil—terlepas kita tidak mendukung Presiden—menilai dan juga belajar kepemimpinan bisa dilakukan dari siapapun. Mereka yang dapat belajar akan mampu menjawab tantangan zaman saat kesempatan itu datang.

Masa depan, selalunya merupakan resultan dari keputusan dan eksekusi yang dilakukan hari ini. Kualitas kepemimpinan yang solid, fokus dan berprinsip ‘berawal dan akhir dalam pikiran’ membuat kita mampu mendesain masa depan sesuai dengan visi dan cita-cita yang kita inginkan.

Harakah Islam harus belajar bagaimana mampu memanfaatkan amanah kekuasaan untuk mewujudkan rahmatan lil alamin. Dalam terminologi sederhana, rahmatan lil alamin dalam konteks negara, disebut oleh Alqur’an dengan baldatun thayyibatun warabbun ghafur. Terdiri dari dua term: baldah thayyibah (negeri yang baik/sejahtera) dan wa rabbun ghofur (diridhoi/diberkahi).

Malaysia di zaman Mahathir mampu membawa masyarakatnya berpacu dengan cepat menuju taraf kesejahteraan melampaui kita. Deng Xiao Ping di era 80-an mampu membuat Cina meraih pertumbuhan dua digit selama dua dekade. Lee Kuan Yew membawa mampu membawa Singapura keluar dari negeri dunia ketiga menuju first class country.

Akan ada cerita tentang Presiden kita. Dan akan selalu ada kesempatan Presiden itu lahir dari rahim harakah Islam. Ketika masanya tiba, mestinya kita sudah belajar bagaimana menbangun masa depan sesuai blue print yang Allah Ta’ala gariskan. Yang dalam banyak term, juga belajar membangun beberapa parameter yang sudah menjadi best practices di dunia internasional. Mulai dari indeks korupsi yang rendah, indeks infrastruktur yang baik, hingga indeks daya saing dan indeks inovasi, serta doing bussiness yang tinggi.

Ketika masa itu tiba, kita berharap, kita dapat mewujudkan masa depan seperti yang dikatakan Imam Ibnu Taymiyah, bahwa tidak merasakan syurga di akhirat mereka yang belum merasakan syurga di dunia. Termasuk didalamnya: lingkungan hidup dan bekerja first class yang dinaungi dengan tadayyun sya’bi (iklim religi) yang menguatkan ruhani dan pikiran. Wallahu a’lam bishawab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s