Kabinet Kerja dan Kerja Dakwah

Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula). (Q.S. Ar-Rahman: 60)

Maraknya pemberitaan seputar pembentukan line up kementerian di Kabinet Kerja memang meneguhkan bahwa sistem pemerintahan kita bersifat presidensial dan para menteri—yang menjadi pembantu presiden—sebenarnya pelaksana utama dari presiden sebagai kepala pemerintahan. Terlepas dari banyak cerita yang melatar belakanginya, pidato Presiden Jokowi pada saat pelantikan hingga saat syukuran bersama relawan di Monas selaras dengan penamaan Kabinet Kerja. Jika dicermati selama dua minggu sejak pelantikan, seolah ada perintah tidak kasat mata pada seluruh menteri agar benar-benar BEKERJA. Mulai dari blusukan, panjat pagar hingga mendatangi pasar, bertemu nelayan, sampai kunjungan kerja presiden ke Sinabung dan tiga provinsi di Sulawesi pada pekan pertama dan kedua masa kerja kabinet ini—semua seolah ingin menegaskan bahwa kaninet ini ingin bekerja.

Walau kritik tak kalah kuat muncul ke permukaan mulai dari tuduhan kerja yang sporadis, kerja tidak sistematis hingga kerja yang tidak berkelan-jutan dari apa yang sudah dibangun pemerintahan SBY, namun diatas itu semua, walau pasar tidak menyambut antusias line up para menteri di bidang ekonomi, tapi tabungan kepercayaan (plus harapan) untuk Indonesia yang lebih baik membuat media, pengamat hingga investor tidak ‹menghukum› susunan menteri di kabinet Jokowi – JK ini. Premisnya jelas: siapa mengambil aksi maka yang lain harus bereaksi. Tentu, ada saja opsi bahwa respon pasar, media dan pengamat yang ‹memanjakan Jokowi› merupakan hasil dari kerja rekayasa dari invisible hand. Tapi jika kita mau mengambil sisi positifnya, ‹menaklukan publik› salah satunya dapat dilakukan melalui aksi heroik yang mendapat peliputan media dengan tone positif. Ada dua medan yang harus ditaklukkan: bukan hanya mampu melakukan sesuatu yang extra ordinary good, tetapi juga mampu menarik perhatian media agar apa yang dilakukan menjadi berita yang dapat dikonsumsi masyarakat.

Lalu apa pelajaran yang bisa kita ambil dari hiruk pikuknya pemberitaan kabinet yang PKS tidak berada didalamnya itu? Plus bagaimana proyeksi kerja-kerja dakwah seiring dengan berjalannya pemerintahan yang baru ini?

Pertama, hendaknya kita menjadi generasi pro aktif. Rumusnya jelas, «Beramallah kalian maka Allah, rasul dan orang-orang beriman akan melihat kalian.» ( QS. 9:105). Pertahanan terbaik adalah menyerang, demikian adagium yang sering kita dengar. Artinya, sebagai Partai Dakwah, PKS perlu terus memberi kontribusi bagi bangsa dan negara, baik melalui sumbangan narasi besar, maupun aksi-aksi membumi yang dapat dirasakan masyarakat.

Seringkali ada bisikan syaitan, “Berbuat baik kayak apapun tetap saja saat pemilu nanti uang yang berkuasa!”. Pernyataan ini pada prakteknya memang ada benarnya saat Pemilu 2014. Tapi kita bukan partai politik yang cuma berpikir bagaimana dapat suara dan dapat kursi! Justru ke depan, masyarakat akan muak sendiri terhadap sikap oportunis dan pragmatis, baik yang dilakukan elit maupun grass root. Akan ada titik equilibrium dimana kesadaran masyarakat akan mengapresiasi Partai yang punya jati diri. Partai yang komitmen dan istiqomah serta bersih dan berkarakter. Ini sebenarnya adalah karakter partai yang lahir dari rahim tarbiyah, lahir dari pengkaderan dan lahir dari keyakinan pada aqidah bahwa yang utama dalam amal kita adalah penilaian dari Allah Taala.

Kejelasan tawajjuh (orientasi) ini membuat kita selalu nyaman beramal, tidak diombang ambingkan oleh hasil yang merupakan hak prerogatif Allah Taala. Sikap tawajjuh yang benar ini pun membawa kita fokus pada pekerjaan membangun basis jangka panjang, seperti menanam pohon jati. Jika basis itu sudah terwujud, maka kita tinggal memetik dan memelihara hasil yang terus berbuah.

Kedua, pro aktif tersebut harus dikaitkan dengan kemampuan membangun persepsi yang tepat sesuai dengan yang kita inginkan. Usaha membangun bangsa dengan dasar keikhlasan harus dibarengi dengan ‹mendidik› masyarakat untuk mengenal manhaj dakwah dan hasil-hasil kerja dakwah.

Tidak ada pertentangan antara kerja ikhlas dengan mengenalkan kerja dakwah ini pada masyarakat. Karena di era sekarang, prinsip stand out among the crowd menjadi keharusan, ketika banyak pihak bekerja juga mengkampanyekan prinsip kebatilan dalam bentuk liberalisme, hedonisme hingga humanismenya. Karena itu, penyiapan para amilin yang bekerja keras membumikan manhaj dakwah, dengan dibarengi strategi marketing yang tepat menjadi keharusan. Akan lebih utuh lagi jika kita memiliki icon yang akan memudahkan masyarakat mengenal manhaj ini, melalui perilaku santun, sederhana, prestatif dan kontributif dari icon kita itu. Walau perlu diingat icon ini sangat perlu menjaga kebersihan hati. Karena siapapun ia, pada saat itu ia sedang meniti jembatan tipis yang dapat membawanya pada rasa ujub, merasa lebih besar dari organisasi.

Ketiga, perlu strategi tepat dengan tetap bekerja dalam lingkup Koalisi Merah Putih (KMP). KMP adalah wasilah (sarana) untuk mewujudkan agar agenda tadayyun syabi (mewujudkan negeri yang religius) bukan hanya menjadi agenda PKS. Tapi juga menjadi agenda KMP dan bangsa ini secara keseluruhan. Tapi pada saat yang sama PKS juga mesti membangun citra dan persepsi tunggal yang membuat masyarakat tahu bahwa PKS sebagai entitas publik punya kekhasan dan keistimewaan dibanding yang lain.

Pandangan PKS tentang jalan menuju kesejahteraan rakyat, pengelolaan menerba hingga pengelolaan pertanian, perikanan termasuk konsep pendidikan usia dini hingga riset dan teknologi harus lantang dan jelas disampaikan. Karena itu, konsep kabinet bayangan dalam arti pseudo (karena Indonesia tidak menganut sistem parlementer) sangat diperlukan. Apatah lagi, realita menunjukkan belum banyak kader PKS dipersepsi masyarakat sebagai icon dari masing-masing bidang kehidupan. Langkah ini, jika dilakukan dengan sistematis dan dalam rentang waktu yang cukup akan menjadi fondasi kokoh bagi penerimaan publik jika kelak PKS mendapat kesempatan memimpin negeri.

Keempat, lima tahun ke depan tidak akan mudah. Panggung yang tersedia bagi PKS tidak banyak. Eksekutif, bagaimanapun memiliki power, termasuk anggaran dan panggung, yang jauh lebih besar. Apatah lagi, terencana atau tidak, jajaran Menteri di Kabinet Kerja memiliki usia yang rata-rata muda. Kawan-kawan dari PKB, Hanura dan Nasdem yang duduk di kementerian termasuk beberapa Dirut BUMN dan pengusaha yang direkrut masuk relatif muda, segar dan penuh vitalitas. Jika Presiden dan Wapres dapat membuat alur komunikasi yang sinergis, bukan tidak mungkin kabinet ini punya peluang untuk sukses.

Banyak terlontar pendapat, pemaksaan program KIP dan KIS berpeluang membuka pertarungan keras dengan parlemen sejak awal. Hal ini diprediksi akan membuat Kabinet ini berusia pendek. Tapi, menyiapkan yang terburuk lebih baik ketimbang beranggapan bahwa jalan yang akan kita lewati landai dan nyaman. Kekalahan di Pilkada DKI, Pilpres atau suara Pileg yang turun mestinya membuat kita bijak untuk tidak menuding orang lain sebagai biang kekalahan atau penurunan. Sebaliknya kita mesti menyiapkan mental dan kekuatan lebih ihsan lagi agar kitapun mendapat balasan ihsan seperti penggalan ayat diawal.

Semoga Allah Taala memudahkan seluruh langkah kita untuk memperbaiki diri agar selalu siap menjadi ‘prajurit fikrah dan aqidah seperti ungkapan Imam Hasan Al Banna.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s