Menyikapi Kemenangan Jokowi

Setelah Mahkamah Konstitusi mengetok palu yang menolak permohonan pasangan Prabowo – Hatta pada 22 Agustus lalu, pasangan Pak Jokowi dan Pak Yusuf Kalla secara de yure akan menjadi Presiden selama lima tahun ke depan. Ada banyak pertanyaan dari kader dan publik, bagaimana sikap kita selanjutnya. Apakah terus tempur atau ada kebijakan lain? Tulisan ini pandangan pribadi penulis dalam rangka urun rembuk tentang apa sikap dan langkah ke depan setelah kemenangan Pak Jokowi JK di pilpres 2014.

Pertama, dalam kondisi apapun akhlaqul karimah mesti menjadi landasan. “Wa innaka la’ala khuluqin adzhim, dan engkau (Muhammad) benar-benar memiliki akhlaq yang agung.” (QS 68:4).

Salah satu turunan akhlaqul karimah adalah bersikap gentleman. Atau tepatnya dalam bahasa kita, ‘bersikap adil’. Qur’an memerintahkan i’diluu huwa aqroba littaqwa, ‘berlaku adillah karena itu lebih dekat kepada taqwa’ (QS 4:8). Mengakui bahwa kita kalah strategi dalam merangkul sebanyak mungkin pemilih akan membuat kita dapat melihat kelebihan dan kekurangan strategi kita. Sikap gentleman/adil akan membuat kita tidak segan memuji lawan dan tidak malu mengakui kekurangan diri. Tentu tanpa sikap merendahkan apalagi menjilat. Tradisi memberikan pidato kemenangan dan pidato mengucapkan selamat dari pihak yang kalah dapat dicontoh untuk menunjukkan bahwa dalam kompetisi selalu ada saatnya bertarung dan berkompetisi tapi ada saatnya mengucapkan selamat kepada pemenang. Dan ucapan selamat ini tidak ada kaitannya dengan sikap PKS yang akan tetap berjuang dalam Koalisi Merah Putih ke depannya.

Kedua, segera memfokuskan diri merapihkan pekerjaan rumah yang cukup lama belum tersentuh karena kesibukan Pileg dan Pilpres. Dalam beberapa kesempatan saya sering menyampaikan, “Jangan pikirkan Jokowi, biarkan urusan pak Jokowi serahkan ke DPP.” Atau dengan guyon saya katakan, “Serahkan urusan pak Jokowi ke akh Fahri Hamzah saja.” Ini untuk menunjukkan bahwa pekerjaan ke dalam jauh lebih urgen dan jauh lebih banyak. Selalu terbukti, rapihnya kerja ke dalam menjadi prasyarat menangnya pertarungan di luar.

Pengalaman selama ini, kita belum membagi peran dengan efisien. Saya selalu berpendapat urusan politik bisa ditangani oleh sejumlah kecil ikhwah yang memang punya kemampuan untuk mengendalikannya. Selebihnya seluruh bangunan dakwah ini fokus untuk memperkuat tarbiyah, mengembangkan institusi sosial dan pendidikan kita hingga membangun kekuatan ekonomi kader. Dengan tarbiyah yang kokoh dan berkembang, dengan institusi yang kian mampu melayani publik dengan kekuatan ekonomi kader maka kemenangan politik hanyalah menunggu waktu. Dalam bahasa matematika, politik adalah fungsi tarbiyah, sosial dan ekonomi kader. Kita bisa mulai dengan DPRa fokus ke pembinaan tarbiyah. Perbincangan di DPRa diutamakan bagaimana ruh tarbiyah, ruh pengkaderan dan ruh rekrutmen menjadi pembicaraan utama. DPC bisa difokuskan mengembangkan urusan sosial. Membangun institusi yang akuntabel, professional, dan produktif. Hal itu menjadi indikator keberhasilannya. Sedangkan DPD bisa mengurus upaya membangun jejaring ekonomi kader plus urusan politik lokal. DPW bertugas memastikan para kader di eksekutif dan legislatif mampu menjadi aktor yang ditugaskan untuk mengembangkan kapasitas dakwah. Mereka duduk di lembaga publik dengan indikator terwujudnya tadayyun sya’bi (iklim masyarakat yang religius). Termasuk melakukan penilaian indikator ketercapaian target di level DPRa, DPC atau DPD. Organisasi yang matang mengalokasikan hampir 30% sumber dayanya untuk melakukan kontrol dan feed back system.

Ketiga, fokus membangun jaringan keummatan. Ada banyak orang dan institusi yang baik diluar kita. Bahasa Imam Syahid, “Kam minna wa laisa fiina.”, berapa banyak yang merupakan golongan kita tapi tidak berada dalam barisan kita. Saatnya kader dan struktur berinteraksi dengan semua lapisan masyarakat. Baik hubungan fardi ataupun jama’i. Kader bisa bergabung dengan komunitas atau bekerjasama dengan komunitas. Struktur baik partai ataupun kelembagaan kader, bisa bersilaturahim dan bekerjasama dalam proyek-proyek keumatan atau kemanusiaan dengan institusi lain. Tidak hanya dengan NU, Muhammadiyah atau Al Irsyad tapi juga dengan KPK, ICW, kalau perlu KWI atau organisasi agama lain. ‘Proyek Palestina’ kini sudah jadi proyek kemanusiaan. Dengan membangun relasi ini, diharapkan PKS dan bangunan dakwah ini akan menjadi ikan dalam lautan luas yang nyaman bergerak kemana pun mengarah. Dalam jangka panjang, boleh jadi investasi networking ini akan efektif untuk menangkal musuh-musuh dakwah yang ingin memojokkan dakwah.

Keempat, proyek pemikiran. Dalam beberapa taujihnya Ustadz Anis Matta selalu menekankan pentingnya kita selalu menumbuhkan pengetahuan kita. Dalam qur’an kita diingat,”Wala takfu ma laisa laka bihi ilm.., janganlah kalian melakukan sesuatu yang tidak ada pengetahauan padanya.” Bahkan dalam taujihnya yang terakhir kita dikehendaki memiliki aqliyah handasah akal rekayasa (engineer) dan aqliyah takhshir (akal penaklukan). Kader diminta terus memperluas dan memperdalam baik kemampuan berpikir kritis dan akademisnya ataupun penguasaan kepada ulumus syar’i minimal ushul fiqh. Semua menjadi pra syarat bagi kita untuk mampu menaklukan masa depan.

Stephen Covey mengingatkan, “Persepsi mendahului Aksi.” Bahwa pengetahuan kita harus mendahului masalah dan target kita. Proyek pemikiran ini sebaiknya dilakukan dengan serius. Mengadakan diskusi antar kader atau mengundang pihak luar bisa dilakukan dengan biaya murah meriah. Bahkan dengan menggunakan jejaring media sosial kita bisa membuat komunitas yang sama-sama membangun proyek pemikiran ini. Menjamurnya ikhwah dan akhwat dengan pemikiran yang matang, niscaya akan menjadi bahan bakar yang kian mem-booster kerja-kerja dakwah ke depan.

Jadi, usul saya, nggak usah pikirin Jokowi. Pikirin aja kerja besar kita ke depan. Wallhu a’lam bishawab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s