Skenario Pasca Pilpres 2014

Alhamdulillah, bi idznillah—atas izin Allah dan hasil kerja keras para kader dakwah serta struktur dari level terendah, sumbangsih PKS bagi pencapaian suara pasangan Capres Prabowo Hatta dapat dikatakan optimal. Hasil exit poll Kompas, pemilih PKS yang mendukung Prabowo Hatta mencapaj angka 75% diatas Partai Gerindra yang 74.5 %. Ditambah dengan kemenangan mendekati 60% di Jawa Barat plus lebih dari 78% di Sumatera Barat.

Nampak jelas betapa PKS merupakan anggota Koalisi Merah Putih yang dapat diandalkan. Belum lagi kontribusi para saksi dan kerja cekatan para ikhwan dan akhwat dalam menjaga C1 dan dokumen lainnya yang akan digunakan dalam sidang MK. Apapun keputusan MK, yang bersifat final dan mengikat, dalam perspektif hukum, pertarungan Pilpres akan berakhir pada 22 Agustus 2014. Dalam konteks itu kita perlu segera menyusun skenario pasca pilpres 2014. Khususnya bagaimana agar bangunan dakwah dapat bertambah kokoh pasca Pilpres 2014 tak kira siapa jua pemenangnya.

Sebelum masuk ke Skenario Pasca Pilpres 2014, saya ingin sedikit mengulas beberapa pelajaran dari Pilpres ini. Pertama, pilpres dengan dua kandidat ini menampilkan fenomena murah secara ekonomi tapi mahal dari segi ongkos sosial. Keterbelahan di masyarakat sangat kentara. Serangan kedua belah pihak sampai taraf yang cukup membahayakan bagi iklim demokrasi itu sendiri. Jika kita bisa melewati fase ini dengan lapang dada dan sikap kenegarawanan, dapat diharapkan demokrasi kita kian teruji dan dewasa. ‘Pertempuran yang tajam’ adalah bagian dari kompetisi, namun ketika selesai permainan yang harus kembali hadir adalah sikap saling menghargai dan dewasa menyikapi perbedaan. Siapapun yang akan jadi Presiden, akan menjadi pemimpin kita semua.

Kedua, khusus untuk PKS, dalam amatan saya yang mungkin salah dan tidak utuh, tampilan komunikasi publik kita baik online maupun offline memiliki catatan yang harus kita perhatikan dengan seksama. Sesuai dengan semangat tempur yang kita miliki, dalam beberapa kasus ternyata kita belum menerapkan prinsip i’diluu (adil) dan fatabayyanuu (verifikasi) dengan prudent (konservatif). Akibatnya banyak info yang langsung kita kirim dan sebar tanpa memvalidasi atau memikirkan apakah ini terkategori fitnah atau fakta. Saya pribadi, sampai harus meminta maaf melalui akun twitter saya @MardaniPKS karena diberi masukkan oleh beberapa follower yang menyampaikan fakta sebaliknya. Sebenarnya hal yang wajar dalam sebuah kompetisi kita bersemangat, adrenalin meningkat, apatah lagi pihak sana pun ‘menyerang’ dengan tajam. Tapi kita ingat pesan Imam Hasan Al Banna bahwa,”Jadilah engkau seperti pohon mangga yang disambit oleh batu malah memberikan buahnya pada si penyambit.” Seorang filusuf mengatakan bahwa politik itu 80% kemenangannya ditentukan oleh komunikasi. Dan Alqur’ an banyak mengingatkan kita dengan term qaulan sadida, qaulan tsaqila, qaulan layyina, dan seterusnya.

Ketiga, salah satu prinsip dakwah adalah mempersempit ruang permusuhan. Dakwah dikatakan berhasil salah satunya ketika pintu-pintu kebaikan dibuka oleh semua elemen masyarakat. Karena itu tampilan, sikap dan karakter dakwah kita mestilah mampu menimbulkan pesona dan rasa tertarik. Jika kita pelajari kisah para nabi, mereka selalu mendatangkan ketaatan dari para pengikutnya dan kekaguman dari para musuhnya. Dalam banyak kisah bahkan dikatakan lebih banyak orang berislam karena karimah ketimbang karena mu’jizat. Itulah sebabnya Nabi Shalallahu Alaihi Wasalam mengingatkan bahwa ‘Aku diutus untuk memyempurnakan akhlaq yang mulia’.

Dalam Pilpres 2014 ini, partai dakwah kita perlu mengevaluasi tampilan, sikap dan karakternya. Percakapan di media sosial menunjukkam bahwa brand PKS sudah jauh menurun nilainya dibanding tahun 2004 yang sangat dikenal dengan slogan ‘Bersih dan Peduli’-nya. Tentu ini bukan tanggung jawab orang per orang, walaupun jika bisa ditunjuk, salah satunya adalah saya sendiri yang diberi amanah sebagai Ketua DPP PKS Bidang Koordinasi Kehumasan. Walau pernah dalam suatu kesempatan ditegaskan bukan sebagai Juru Bicara PKS oleh pimpinan partai yang lain.

Lalu bagaimana skenario kita pasca Pilpres? Dalam perspektif saya setidaknya ada empat hal yang perlu kita seriusi dan fokus di dalamnya. Pertama, quwwatut tarbiyah. Kekuatan tarbiyah selalu menjadi asas/dasar bagi kita untuk merancang masa depan. Karena tarbiyahlah yang mampu membangun quwwatus sholbah (kekuatan basis) yang tidak lekang oleh panas, tidak luntur oleh dunia dan tidak larut oleh gaya hidup manapun. Tarbiyahlah yang membuat amal kita di sektor manapun memiliki nilai ruhi dan ukhrowi. Tarbiyah, seperti diingatkan Syaikhut Tarbiyah Alm. Ust. Rahmat Abdullah memang bukan segala-galanya. Tapi segala-galanya tidak akan ‘menjadi’ tanpa tarbiyah. Karena itu, fokus merapihkan tarbiyah kita mulai dari upgrade kualitas dan kuantitas murobbi dan murabbiyah, hingga naqib dan naqibah, termasuk revitalisasi kurikulum yang mampu menghidupkan dan merangkumi fenomena banyaknya kader yang masuk ke ruang publik dan amanah publik, harus jadi prioritas utama. Biasanya structure and budget follow function, artinya harus diletakkan orang terbaik dengan bujet terbaik untuk memperkuat bidang tarbiyah ini.

Kedua, memperkokoh robtul aam, ikatan umum kita. Ikhwan dan akhwat harus segera keluar kandang dan mendatangi masyarakat. Pepatah ikhwan dan akhwat itu seperti singa, namun aumannya belum menggetarkan karena sang singa masih terkunci di dalam kandang. Berinteraksi lah. Jika perlu maju ke depan dengan memikul amanah sebagai ketua RT, RW, DKM, Dewan Kelurahan dan ruang-ruang kontributif yang bersifat sosial kemasyarakatan. Rumusnya sederhana, “Sayyidu qaum khadimuhum…”, pemimpin satu kaum adalah pelayan kaum tersebut. Barisan kader yang tertarbiyah, terdidik, cerdas dan muda niscaya akan menjadi ruhul jadid, ruh baru dalam jasad bangsa ini. Sebagian ikhwah di Jawa Tengah bahkan sudah banyak yang menjadi Kepala Desa. Apalagi dengan UU Desa yang baru, dimana desa ditempatkan di garda depan pembangunan nasional termasuk bujetnya. Insya Allah penguatan robtul aam kita akan melahirkan iklim dakwah yang kondusif dan aksesibilitas yang luas bagi dakwah untuk berkembang.

Ketiga, mengembangkan kekuatan sosial dakwah. Jika robtul aam adalah proyek individu seperti menguatkan ruhi, fikri dan tarbawi kader, maka pengembangan kekuatan sosial adalah upaya institusionalisasi lembaga-lembaga sosial kita. Semua lembaga sosial kita baik di tingkat lokal maupun nasional —sebagian malah sudah berkiprah secara internasional— perlu ,mendapat dukungan untuk menjadi lembaga yang kredibel, profesional, transparan, akuntabel dan menjadi trade mark pelayanan optimal. Dalam negara yang rasio gini-nya[1] terus meningkat mendekati 0.42, Indonesia sangat memerlukan gerakan sosial yang membantu negara dalam mengangkat harkat dan martabat para fuqara wal masakin termasuk mustadh’afin. Kader dan lembaga sosial kita memiliki semua pra syarat untuk menjadi pionir dalam pelayanan yang amanah dan berkualitas. Karena itu kerja-kerja untuk mengokohkan, meningkatkan dan ‘meledakkan potensi’ lembaga sosial kita menjadi prioritas utama yang ketiga.

Terakhir, yang keempat, mengokohkan kekuatan ekonomi kader. Data lima tahun lalu, menurut saya masih valid hingga saat ini, 67% persen kader kita masih hidup sebagai mustahik zakat. Upaya mengangkat perekonomian kader melalui pembentukan Bidang Pengembangan Ekonomi dan Kewirausahaan Kader perlu dilanjutkan. Berbagai stimulus permodalan hingga jaringan pemasaran perlu difasilitasi oleh struktur. Peran negara dalam skala kecil dapat diambil alih oleh struktur tingkat DPD, DPW dan DPP yang memiliki akses dan pengetahuan yang luas. Jika diperlukan bisa dibuat sentra-sentra ekonomi atau pertumbuhan ekonomi baru. Seiring dengan kian sadarnya publik dan pemerintah akan pentingnya wirausaha, ke depan akan banyak stimulus, dukungan dan dorongan dari negara untuk para pelaku usaha kecil. Dengan blue print yang tajam dan kongkrit kita bisa membuat perencanaan 10 hingga 20 tahun ke depan bagi terwujudnya prinsip “sunduquna juyubuna”, kantong kami adalah sumber dana kami.

Semoga Allah SWT memberi kekuatan, mata hati dan ketajaman pikiran bagi qiyadah kita untuk mampu membawa lokomotif dan gerbong kebaikan ini menuju terwujudnya kontribusi terbaik dakwah bagi hadirnya negeri sejahtera yang diridhoi Allah SWT.

[1]       Rasio Gini: angka yang menghitung kesenjangan kaya dan miskin, dimana angka mendekati 1 berarti tingkat kesenjangannya tinggi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s