Pilpres 2014

Ada yang istimewa di Ramadhan 1435 H ini, umat Islam dapat kado Presiden baru. Setelah 10 tahun di bawah kepemimpinan Pak SBY, Indonesia akan mendapat pemimpin baru. Kredo, “Everything rise and fall on leadership.” (Segalanya jatuh dan bangkit karena kepemimpinan) akan membawa Indonesia menuju era baru yang insya Allah lebih maju dan sejahtera, dan pastinya harus kita kawal agar lebih religius.

Tulisan ini dibuat sepekan sebelum 9 Juli 2014, jadi belum diketahui siapa pemenang Pilpres kali ini. Pertarungan dua kandidat diprediksi ketat, harapannya siapapun pemenangnya marginnya diatas 5% untuk menghindari proses berkepanjangan yang bisa jadi memakan energi lebih, khususnya bagi masyakat awam. Plus yang juga harus dipastikan adalah tidak adanya intervensi dari pihak asing.

Seperti di beberapa tulisan sebelum ini saya berpandangan, pasangan presiden dan wakil presiden ke depan punya tugas yang luar biasa berat. Mulai dari tingkat religiusitas umat yang masih rendah—ditandai dengan belum meratanya program memakmurkan masjid, indeks bank syariah yang masih rendah ketimbang bank umum, kondisi pendidikan umat yang masih terpuruk hingga kondisi perekonomian nasional yang menghadapi middle income trap (jebakan kelas menengah), infrastruktur yang rendah hingga kualitas SDM yang membuat produktivitas bangsa yang rendah. Semua ditambah, kondisi pilpres yang hanya diikuti dua pasangan ini membuat murah secara ekonomis tapi mahal secara politis dan sosial. Keterbelahan bangsa sangat terasa. Ditambah pemihakan media pada masingmasing pasangan membuat suhu politik pada pekan-pekan terakhir menjelang pilpres amat overheated. Semua menjadi tanggung jawab bagi siapapun pasangan yang terpilih. Kita doakan, Allah SWT memberi kekuatan pada siapapun pasangan yang terpilih.

Pada tulisan kali ini, saya tidak akan mengarahkan pembaca untuk memilih salah satunya. Insya Allah semua sudah memiliki pilihan sesuai dengan keyakinan dan harapannya. Tapi saya akan fokus pada pelajaran apa yang harus diambil umat terkait dengan perjalanan panjang mewujudkan ‘khairu ummah’. Karena memang tidak ada yang instan. Kekuatan tidak dibangun dalam sehari. Siapa menyiapkan payung saat hujan tidak akan mendapat hasil optimal. Dalam perspektif keummatan, menurut saya ada beberapa pelajaran yang bisa ditarik:

Pertama, ide koalisi keummatan gagal terwujud sebab utamanya adalah ‘musim kemarau tokoh Islam’. Baik Pak Jokowi ataupun Pak Prabowo, sejatinya tidak lahir dari rahim umat. Mereka insya Allah bisa dikondisikan untuk memperjuangkan kepentingan umat, tapi mereka —sekali lagi— tidak lahir dari rahim umat. Apa maksud tidak lahir dari rahim umat? Mereka berdua tidak berasal dari partai Islam, dari organisasi Islam, dari pergerakan Islam ataupun dari pihak yang selama ini akrab memperjuangkan kepentingan umat. Apa artinya? Kita perlu benar-benar mengambil pelajaran bahwa menyiapkan tokoh menjadi salah satu agenda kerja pergerakan Islam. Dan ini adalah proses yang rumit dan perlu ketekunan. Kisah Pak Jokowi sudah sering saya kutip betapa beliau mulai dari kota kecil di Solo dengan segala rekam jejaknya —terlepas dari faktor pencitraan— hingga pak Prabowo yang berkali-kali gagal dalam jalan menuju panggung pilpres sebelumnya tapi tidak pernah menyerah dan terus maju.

Pergerakan Islam mesti benar-benar serius mengedepankan merit system yang sesuai dengan hadits baginda Nabi saw bahwa memberikan amanah pada orang yang memiliki kapasitas dibawah orang yang seharusnya adalah tindakan khianat dan jauh dari ciri iman. Prinsip qiyadah mukhlishoh (pemimpin yang ikhlas) yang tidak memiliki vested interest baik keluarga, suku, kedekatan dan faktor lain semata bahwa carilah yang terbaik. Karena mencari yang terbaik memang bukan pekerjaan mudah. Nabi saw pun mengingatkan bahwa hampir-hampir dari 100 ekor unta aku tidak mendapatkan satu pun unta rahilah (pekerja yang tangguh). Bukan cuma itu, keberanian mengedepankan kader terbaik dengan dukungan sumber daya yang ada harus dimulai tanpa ditunda. John Maxwell mengatakan, “Investasi terbaik sebuah organisasi adalah staf development”. Sesuai dengan bahasan dahulu pathway (jalur) terbaiknya adalah posisi eksekutif di level terendah mulai dari kepala desa, bupati, walikota, gubernur hingga presiden.

Setelah selesai urusan memberesi program penokohan melalui pembenahan institutional development termasuk merit system, program kedua adalah mendorong semua kader, simpatisan hingga pengurus untuk mengembangkan kapasitasnya. Khususnya yang berkaitan dengan kemampuan memberi kontribusi pada publik melalui semua jalur profesi, hobi atau filantropi. Mesti dipastikan tiap kita memiliki jalur pengembangan kontribusi publik yang tinggi. Contoh, kemampuan tim socmed dari kedua pasangan capres dan cawapres sangat menentukan tone/impresi dukungan dari masyarakat kelas menengah khususnya. Pun kepiawan membuat jingle baik rekap ulang lagu ‘We Will Rock You’ hingga ‘Salam Dua Jari Jangan lupa pilih Jokowi’ adalah hasil ketekunan pada bidang masing-masing. Prinsip yang jelas ‘Faqidus syai laa yu’ thi’ Siapa yang tidak memiliki sesuatu tidak akan dapat memberi sesuatu. Umat harus berdaya: harus tahu, mau dan mampu —kata Stephen Covey dalam 7 Kebiasaan Manusia Efektif— untuk dapat jadi andalan. Allah Ta’ ala sudah mengingatkan kita bahwa “Allah tidak akan mengubah kondisi satu kaum sebelum kaum tersebut mengubah diri mereka sendiri. (QS 13:11)” Atau peringatan Nabi saw bahwa “Mu’min itu yang hari ini lebih baik dari hari kemarin.”

Ketiga, lagi-lagi kepentingan memiliki media. Media sesuai dengan fungsinya adalah pemberi kabar, pembentuk opini hingga trend setter gaya hidup. Jika diqiyaskan media memiliki fungsi yang mirip dengan salah satu fungsi kenabian sebagai pembawa kabar (An-Naba). Pekerjaan kecil tapi diolah dan diekspose media dengan masif akan membawa dampak yang lebih dahsyat dari ketekunan di alam sunyi. Perkara pahala adalah sebuah hal yang sudah dijanjikan. Yang jadi wilayatul insan (wilayah kemanusian) kita adalah mengemas amal sholeh menjadi sesuatu yang diperlukan, dinanti-nanti hingga membawa kebaikan berlipat dan dirasakan sangat oleh publik. Dan lagi-lagi jika melihat di balik media besar pasti ada satu dua orang yang menentukan nasib dan masa depan media ini. Ada Dahlan Iskan dibalik Jawa Pos. Ada Jacob Utama dibalik Kompas group dll. Agenda menghasilkan SDM media yang mencukupi baik cetak, online, radio dan TV menjadi mutlak.

Terakhir, terus menguatkan modal sosial umat melalui kontribusi yang terbaik pada semua momen utama pembangunan bangsa. Institusi zakat, sosial, pendidikan, kesehatan hingga ekonomi umat mesti terus mengokohkan diri. Untung tapi juga penuh dengan ruh dakwah. Berkembang sekaligus menyejahterakan dan mencerdaskan umat. Dalam kajian di What Would Google Do penulis Jeff Jarvis menceritakan bahwa Google dapat melewati pencapaian GE (Gerenal Electric) yang dibangun dalam 150 tahun hanya dalam enam tahun. Rahasianya DERMAWAN. Kian dermawan sebuah perusahaan kepada publik, kian cepat pertumbuhan perusahaan itu, baik dalam kapitalisasi modal ataupun keuntungan. Lihat google, betapa bermanfaatnya bagi publik di dunia. Mulai dari gmailnya, G-map dan google Earthnya hingga translater-nya.

Pilpres 2014 menunjukkan masih banyak PR yang harus dikerjakan. Siapapun pasangan Capres dan Cawapres yang terpilih, umat tetap harus memperhatikan agendanya sendiri. Kita yang lebih faham kondisi rumah sendiri. Ayo berbenah!

Wallahu a’lam bishawab.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s