Kekuatan Jangka Panjang

Pada bulan Mei yang lalu, Ustadz Anis Matta dalam pengantar Election Update kelima melontarkan gagasan tentang long term power (kekuatan jangka panjang). Jika merujuk pengalaman 15 tahun interaksi dakwah di nusantara, upaya untuk menjadikan nilai-nilai Islam sebagai arus besar legislasi nasional atau sistem nasional selalu terkendala dengan perolehan suara partai yang masih masuk kategori kelas menengah. Jika melihat pemenangan pemilu pun, empat kali pemilu sejak 1999, selalu dimenangkan oleh partai yang berbeda. Belum ada satu partai pun yang dapat mempertahankan kemenangannya pada pemilu berikutnya.

Potret ini bukan hanya terjadi di Nusantara. Gerakan Islam di Kuwait, Aljazair hingga Tunis dan Mesir selalu saja menghadapi tantangan tingkat volatilitas (ketidakstabilan perolehan suara) pada setiap pemilu. Ini mengakibatkan agenda yang bisa dijalankan selalu agenda temporer. Sulit membuat perencanaan proses tadayyun sya’bi (upaya menjadikan masyarakat lebih religius) termasuk usaha penguatan aqidah dan militansi umat, pengokohan ekonomi umat hingga kerja-kerja mengangkat kualitas lembaga pendidikan umat dapat berjalan dengan sistematis. Dalam konteks inilah, Ustadz Anis Matta mengusulkan adanya terobosan melalui long term power. Sebuah usaha menghadirkan sumber daya yang stabil, kokoh dan berkelanjutan bagi proyek peradaban Islam di Nusantara atau dunia. Bagaimana detailnya?

Selalu ada mutaghoyyirot (hal-hal yang dapat berubah) dan tsabat (hal-hal yang pasti) dalam semua sektor kehidupan. Jika kita dapat mengurai kepada elemen kekuatan umat, termasuk ke dalamnya medan politik, maka didapat parameter ats-tsabat ( pasti dan kokoh) adalah korelasi antara tarbiyah, kader militan dan perolehan dukungan (baik politik, ekonomi, sosial dan budaya) masyarakat. Artinya tanpa harus terpengaruh pada parameter pemilu, hadirnya kader yang militan, yang memiliki muwashofat (karakteristik) unggulan dan terus berproses dalam lingkungan tarbiyah yang sehat menjadi determinan faktor (faktor penentu) yang tidak akan berubah walau lingkungan politik dan sosial berubah. Sederhananya, jika kita ingin memastikan adanya kelanggengan dukungan sosial dan politik bagi proses membumikan peradaban Islam di nusantara maka syarat utamanya kita memiliki kekuatan jangka panjang—long term power dalam istilah Ustadz Anis—yang kokoh. Dan itu adalah kader militan yang memiliki jumlah yang cukup untuk membuat pengaruh nilai-nilai Islam baik di medan social, apatah lagi politik. Jika kita dapat menemukan kadar pengaruh untuk setiap kader, katakan dengan kualitas tarbiyah yang ihsan dan itqon, satu kader mampu menjaga, mempengaruhi dan menumbuh kembangkan masyarakat sebanyak 5 orang (Qur’an surat Al anfal ayat 65 menyebut angka batas atas 10 dan batas bawah 2), maka untuk menjamin perolehan suara 20% dalam pemilu setidaknya kita mesti memiliki kader terbina militan sebanyak 5 juta. Dengan angka stabil di 25 juta suara maka menjadi lebih mudah bagi kita untuk dapat secara berkesinambungan menjalankan program tadayyun sya’bi.

Angka kader terbina 5 juta tentu bukan perkara yang mudah. Walau juga bukan sesuatu yang mustahil. Banyak di antara kader dakwah sudah mampu mengelola amanah di level Kota Kabupaten, Provinsi hingga kementerian. Kemampuan menjalankan program masif dan dalam rentang lima tahun masa kerja dapat dijadikan modal. Karena setidaknya ada tiga syarat utama agar usaha mewujudkan long term power ini dapat sukses dijalankan. Pertama, tersedianya sumber energi iman yang melimpah dari barisan qiyadah (pimpinan) baik pimpinan tarbawi atau siyasi. Sulit menghimpun sedemikian banyak hati manusia untuk tunduk dan bersimpuh dalam shaf kebaikan ini jika tidak ditemukan pesona imani, pesona ukhrawi dari para qiyadah, murabbi atau naqib, yang tercermin dalam komitmen ibadah, akhlaq hingga keteladanan. Qiyadah mukhlishoh (qiyadah yang ikhlas) akan melahirkan jundi muthi’ah (prajurit yang taat). Termasuk yang utama adalah pesona akhlaq: mulai dari ketawadhu’an, keteguhan berprinsip (tidak silau dengan dunia dan menghalalkan segala cara), bersahaja, hingga ikatan ukhuwah dan qudwah. Dalam dunia yang sudah terkoneksi dengan jejaring sosial dan media, berita satu orang qiyadah mencederai prinsip dan nilai-nilai berharakah boleh jadi membuat para muhibbin (orang-orang mencintai kita) menjadi menjauh dan keluar dari barisan.

Syarat kedua, sistem kontrol yang ketat dan ihsan. Target 5 juta kader terbina dengan kualifikasi yang standar memerlukan proses tarbiyah yang berkualitas, sehat dan hidup. Karena itu, penerapan quality control management, rantai komando yang kokoh hingga ketersediaan kurikulum dan kegiatan yang berkualitas menjadi keharusan. Karena itu, keberadaan institusi yang berdaya eksekusi menjadi syarat mutlak. Termasuk penempatan personel pada insititusi yang bertanggung jawab pada pelaksanaan sistem tarbiyah yang berkualitas dan berskala massif ini. Rekrut orang-orang dengan standar terbaik sesuai bidang keahliannya. Termasuk men-tafarrugh-kan ikhwan dan akhwat utamanya untuk fokus menjadi murobbi atau pengelola aktivitas tarbiyah di daerah masing-masing. Bisa dengan dukungan pendanaan yang memadai tapi lebih baik lagi jika kader yang diamanahi tugas tersebut sudah memiliki kebebasan finansial karena mereka memang sudah ‘tangan diatas’.

Dan syarat ketiga—yang terakhir, learning by doing. Langsung integrasikan kegiatan tarbiyah dengan realita di lapangan. Ketika kemiskinan yang ada di hadapan, maka tugas satuan khusus tarbiyah ini mencoba mulai dari yang kecil menyelesaikan problem kemiskinan ini. Jika yang dihadapi adalah kerusakan moral, maka satuan khusus tarbiyah ini melalui lembaga sosialnya dapat memberi kontribusi misalnya dalam parenting training, training motivasi bagi pemuda, dst. Intinya regu-regu tarbiyah ini menjadi satuan unit amal khairiyah yang melayani dan memberi solusi di masyarakat termasuk berintegrasi dengan struktur di masyarakat seperti menjadi pengurus RT, RW, DKM hingga urusan melayani orang mati.

Jika ketiga syarat ini bisa dilakukan dengan kontinyu selama waktu tertentu, katakan lima tahun, dan bersifat massal, insya Allah pada pemilu 2019 nanti kita akan sedikit memetik hasilnya. Saya katakan sedikit karena memang pohon yang ditanam bukan tanaman jangka pendek tapi tanaman yang menjadi cikal bakal long term power. Wallahu a’lam bishawab….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s