Menuju Capres Umat

Pemilu legislatif (Pileg) usai, kita akan masuk ke kompetisi berikutnya: Pemilu Presiden (Pilpres). Alhamdulillah Pileg 2014 memberi kabar gembira dengan perolehan Parpol Islam atau berbasis massa Islam (PPP, PBB, PKS, PKB dan PAN) mencapai 32%. Kita bersedih karena PBB nampaknya tidak lolos electoral thershold (ET) yang 3.5%.

Walau —saat tulisan ini dibuat— pleno KPU sedang berlangsung, nampaknya perolehan partai-partai tidak akan jauh dari hasil quick count yang dilakukan beberapa lembaga survei. Dimana tidak ada partai dominan dengan perolehan di atas 20%. Plus dengan 10 parpol yang masuk Senayan, hampir tidak terjadi keuntungan electoral vote dibanding popular vote. Di 2009, perolehan 21% popular vote suara demokrat ketika dikonversi menjadi kursi mendapat 26.4% electoral vote, setara dengan 148 kursi. Di 2009, partai menengah ke atas mendapat keuntungan electoral vote. PKS di 2009 dengan 7.8% popular vote mendapat 10,2% electoral vote setara dengan 57 kursi. Sekarang dengan 10 parpol perbedaan popular vote dan electoral vote di kisaran kurang lebih 1%.

Jadi, dengan perolehan pileg seperti itu, bagaimana dengan kans Capres Ummat? Sangat mungkin. Gabungan PKB, PAN, PKS, PPP dan PBB sudah lebih dari 30%. Jika Demokrat atau Golkar bisa diajak, angkanya bisa di atas 40%. Insya Allah cukup untuk pemerintahan efektif.

Dengan komposisi ini, tiket maju Capres dan Cawapres sudah di tangan. Syaratnya: semua berpikir besar untuk kepentingan umat. Apa sih kepentingan umat itu? Wujudnya adalah negeri yang baldatun thoyibatun warobbun ghafur. Negeri sejahtera yang diridhoi Allah Ta’ala. Ini terjabarkan baik dalam sistem pendidikan, pesantren yang mendapat tempat terhormat, para ulama dan ustadz yang diberi fasilitas, serta akhlaqul karimah yang jadi pedoman. Termasuk tentu sistem politik, ekonomi dan sosial budaya yang mengajak masyarakat untuk kian religius, jauh dari korupsi, tidak hedonis dan tidak konsumtif tapi justru produktif dan kontributif.

Lalu siapa capres dan cawapresnya? Yang pasti, ada indikasi daya tarik tokoh lebih tinggi dari daya tarik partai. Karena itu, penetapan figur harus hati-hati dengan pertimbangan favorabilitas (kesukaan) calon.

Kita punya banyak calon. Jika media mem-framing kita dengan 4L: Lu Lagi Lu Lagi. Seolah-olah cuma ada tiga: Jokowi, Prabowo dan Aburizal Bakri. Kita punya yang jauh lebih baik ditimbang dari manapun.

Untuk capres syaratnya leader is doing the right things. Pemimpin itu melakukan sesuatu yang benar. Yang diperlukan mereka yang punya karakter, punya sikap dan track record. Menurut saya, tokoh seperti Mahfud MD, Dahlan Iskan, Hidayat Nurwahid, Jusuf Kalla, Gita Wiryawan, hingga Anis Matta bisa jadi bahan untuk dipertimbangkan.

Untuk cawapres adalah mereka yang do the thing right. Mereka yang mampu melakukan sesuatu dengan benar. Mereka yang punya kemampuan teknokratis dan berpengalaman di birokrasi. Lagi-lagi menurut saya kita punya banyak stok, mulai dari Dahlan Iskan, Jusuf Kalla, Hatta Rajasa hingga Aher.

Gabungan dua figur ini, yang manapun, insya Allah bisa mengefektifkan pemerintahan.

Bagaimana dengan Bang Rhoma, Muhaimin Iskandar, Surya Dharma Ali, Yusril Ihza Mahendra, atau tokoh-tokoh lain? Semua hendaknya dengan besar hati menjadi pendukung utama koalisi ini.

Lapis kedua, para generasi muda pimpinan parpol Islam bisa dijadikan tulang punggung bagi perwujudan tim kampanye ataupun kabinet yang efektif nantinya. Ada Romi di PPP; ada Sohibul Iman, Muzammil Yusuf, dan Fahri Hamzah di PKS; ada Mas Tjatur di PAN; ada Abdul Malik Haramain di PKB; ada Mas Khattat di PBB semua jadi tim lapis dua yang bergerak di lapangan mencari simpati dan dukungan.

Kita tambah juga dengan kawan-kawan NU, Muhammadiyah, Al Irsyad, FPI, HTI, Salafi, Tablighi termasuk Majelis Rasulullah, MTA hingga tokoh-tokoh muslim baik lokal dan regional menjadi tiang-tiang utamanya.

Mungkinkah kita menang? Kita tidak punya media dan tidak punya modal. Saya yakin bisa! Kita satukan kekuatan umat. Kita punya ulama, punya asatidz, punya masjid, punya semangat infaq dan jihad.

Bagaimana denga capres lainnya? Adakah Jokowi, Prabowo dan Aburizal Bakri tidak bisa diajak? Sangat bisa. Tapi, fatsun paling baik kita bincang dengan kawan terdekat dahulu. Ini ke depan bisa jadi awal rekonsialisasi umat yang mahal harganya. Plus dalam demokrasi adalah hal yang sah untuk berkompetisi. Kita apresiasi semua capres dan cawapres yang ada. Kita berkompetisi dengan niat semua sama: memberi kontribusi terbaik bagi bangsa dan negara.

Beauty kontes ini membuat bangsa ini besar. Mari kita saling menghargai atas semua inisiatif dan kontribusi yang akan diberikan oleh siapa pun di antara kita.

Satu lagi yang utama, agar mimpi besar ini dapat terwujud, semua pemimpin umat harus berpikir dan berjiwa besar. Jangan mulai dengan nama. Siapa Capres, siapa Cawapres. Tapi mulailah dengan meletakkan kepentingan bagaimana menjaga umat mulai dari pendidikan berkarakter-nya, ekonomi kecil dan prinsip bebas riba-nya, budaya Islami yang membangkitkan ghirah-nya hingga kebesaran olahraga hasil dari kerja keras para atletnya. Man jadda wajada. Siapa ngotot, pasti dapat. Ayo semua ngotot. Ngotot dalam usaha, ngotot dalam hujjah dan ngotot dalam doa. Tentu ngotot disini dalam konotasi jiddiyah (sungguh-sungguh).

Wallahu a’lam bishawab.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s