Tiga Pelajaran dari Pemilu 2014

Alhamdulillah, setelah melalui hari-hari yang intens dengan pertemuan, sosialisasi, interaksi dengan masyarakat dan juga adu strategi dengan partai lain, Pemilu 9 April 2014 usai sudah. Perolehan suara partai-partai Islam, mengikut quick count (QC) secara umum naik mendekati 32%. PKB, PAN, PPP secara umum naik. Sedang PBB, yang bersama PKPI terlambat ditetapkan sebagai peserta pemilih, dari hasil QC nampaknya berada di bawah electoral thershold (ET). PKS sendiri, yang di hampir semua survey dan banyak pengamat meramalkan akan tamat (tidak lolos ET), dengan izin Allah dan melalui wasilah kerja keras para kader, struktur dan caleg—di bawah gempuran negatif media—masih mampu di angka, berdasar QC, 7 %-an.

Angka kurang lebih 7% ini dibawah target 12%. Posisi 3 besar belum tercapai. Tentu ini menjadi bahan evaluasi. Namun dengan serangan massif pemberitaan negatif dan minimnya iklan di TV, perolehan suara 7% ini, mencengangkan banyak pengamat. Sekali lagi—buah tarbiyah ini menunjukkan bahwa ketangguhan dan kekuatannya bersumber bukan pada kekuatan materi dunia yang fana, tapi berasal dari kekuatan iman, kekuatan langit dan kekuatan keyakinan. Karena itu, marilah kita coba ambil pelajaran berharga dari event 5 tahunan yang juga menjadi indikator kekuatan dan pengaruh tarbiyah kita.

Pelajaran pertama, kita adalah jamaah manusia. ‘Manusia adalah tempat salah dan lupa.’ Terlepas dari kontroversi dan pro kontra persidangan kasus Impor Daging Sapi, pelajaran terpenting adalah bahwa Partai Dakwah ini diminta masyarakat memiliki standar tinggi yang berbeda dengan parpol lainnya. Kesalahan kecil, perkenalan dengan Ahmad Fatonah dkk, dapat menyeret kita pada rusaknya citra bersih yang sudah kita bangun sejak mihwar tanzhimi.

Kebersihan aqidah, kebersihan akhlaq, kebersihan sikap, kebersihan dalam berteman adalah buah dari tarbiyah. Tarbiyah mengajarkan kita bahwa pilihan teman, pilihan cita rasa hingga pilihan beramal sangat ditentukan dengan jawaban dari pertanyaan: Adakah ini diridhoi atau diizinkan Allah Ta’ala? Adakah pilihan ini membuat kita kian dekat dengan ridhoNya atau mendekat pada murka Nya?

Kekuatan ‘bersih’ kita sangat erat kaitannya dengan quwwatut tarbiyah kita. Karena itu, usaha memilihara kekuatan tarbiyah kita melalui halaqah, wajibatul yaumiyah (kewajiban harian), hingga keseriusan kita dalam mentaati perintah dakwah dan jama’ah adalah bagian dari komitmen tarbawi kita. Rumusnya jelas: kian kuat tarbiyah kita, kian kokoh kepribadian kita, kian produktif kita, kian kuat citra kita di masyarakat dan kian mudah kita mempesona publik dan kian dekat kemenangan politik kita.

Pelajaran kedua: kekuatan efek TOKOH. Benar Jokowi Effect tidak besar pengaruhnya pada PDIP. Tetapi Rhoma Effect dan Prabowo Effect tetap berpengaruh pada PKB dan Gerindra. Dengan tingkat rata-rata pendidikan kita baru 7.5 tahun memang mengajak masyarakat untuk ikut memilih berdasar visi, misi dan platform partai, hasilnya masih jauh dari yang diharapkan. Justru, logika masyarakat sederhana: seperti apa perilaku dan sikap TOKOH, seperti itu pulalah gambaran partainya. Dan membangun TOKOH jika kita lihat, paling efektif melalui lembaga eksekutif. Pilihan menjadi Bupati, Walikota atau Gubernur adalah the right track. Sebaliknya langkah menjadi anggota legislatif sulit mendapat apresiasi publik yang besar. Kisah Jokowi, Trismaharini, Ridwan Kamil, Aher, Gatot atau Irwan Prayitno adalah contoh sederhananya. Karena itu, partai memang mesti menjadi kawah candradimuka untuk melatih dan menempa kader partai menjadi pribadi yang siap memberikan kontribusi kepemimpinannya bagi masyarakat.

Ketiga, pelajaran mahalnya adalah negeri ini adalah negeri religius. Negeri Islam. Walaupun kampanye ‘menghapus’ partai Islam dengan segala surveynya, kecuali Polcomm-nya Heri Budianto yang jernih melihat bahwa pleuang parpol Islam tetap terbuka di 2014, semua lembaga survey seolah menggiring masyarakat untuk tidak memberi peluang kepada parpol Islam. Alhamdulillah umat tetap yakin bahwa parpol Islam tetap dipercaya.

Angka 32% bukanlah angka yang buruk. Sedikit lebih baik dari 2009 malah. Tapi kita rindu situasi jaman Masyumi dulu. Dimana party ID, ikatan kepartaian seperti ikatan ideologi. Anggota tiap partai malah berlomba-lomba untuk menginfaqkan harta dan tenaganya bagi kebesaran partainya. Berpartai adalah wujud perjuangan ideologinya. Dan karena itu, mereka yang menjadi anggota parlemen atau anggota kabinet bukan menjadikannya lahan untuk memperkaya pribadi, memperbanyak harta; tapi menjadikannya medan suci memperjuangkan ideologi, sistem ekonomi, sistem akhlaq hingga sistem pendidikan yang mengajak manusia untuk lebih taat kepada Al Khaliq. Dulu, masyarakat adalah organik yang hidup dalam semangat ideologi yang membara, hidup adalah perjuangan. Hidup adalah perwujudan keyakinan dan misi.

Kini, bangsa ini mengidap penyakit baik di level pimpinan partai ataupun di level masyarakat yang sangat doyan dengan money politic. Uang haram menjadi penentu pilihan. Bagaimana mungkin mengharap hasil yang baik jika proses awalnya dipenuhi dengan kecurangan dan kebusukan. Tapi cara mengubah yang terbaik, seperti kata Nabi Saw, adalah Ibda Binafsika. PKS harus menjadi contoh perwujudan partai ideologis. Bahwa mulai pimpinan hingga kadernya menjadikan medan politik sebagai wahana perjuangan. Sejak 1999, sebenarnya kita sudah melakukannya. Tapi memang, fadzakkir fa inna dzikro tanfaul mu’minin. Berilah peringatan karena peringatan itu membawa manfaat bagi orang beriman. Hasil pemilu 2014, mesti dijadikan pelajaran bahwa boleh jadi kita mulai menjauh dari cita-cita menjadikan partai ini sebagai wahana perjuangan. Wallahu a’lam bishawab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s