Membangun Pasar Umat

Namanya Haji Jaya, tinggal di Kec. Pedes Karawang Desa Kertajati. Sudah sejak 2009 saya mengenal dan kukurusukan (blusukan bahasa Jawa-nya) muterin dapil 4 Karawang untuk meyakinkan publik simpati dengan PKS. Ada yang berubah setelah empat tahun tak bertemu; Haji Jaya sekarang punya Pasar.

Pasar? Ya benar, sejak dua bulan lalu bertempat di jalan raya Pedes, diatas lahan 1.5 ha yang tadinya sawah, berdiri pasar swasta pertama di Karawang. Ada 60 kios dan 90 los/lapak. Ada yang berdagang pakaian, toko emas, jual beli hp, bahkan dealer motor dan BPR. 60 kios telah terisi penuh dengan sistem sewa. Bahkan sebagian masuk waiting list. Begitu juga dengan lapaknya: ada 40 lapak sayuran, 40 lapak daging dan ayam serta warung nasi, musholah, kamar mandi dll.

Haji Jaya, bagi saya fenomenal. Dulu saat, saya dapat amanah menjaga PKB (Purwakarta, Karawang dan Bekasi) di tahun 2009, beliau banyak membantu untuk kawasan Rengas Dengklok, Pedes, Batu Jaya dan Pakis Jaya. Semua kecamatan di Kabupaten Karawang. Dulu, beliau jawara yang punya banyak sawah dan mulai sadar bahwa hidup itu mesti ada perjuangan. Dengan izin Allah dan atas kerja keras para kader dakwah di Karawang yang dengan tekun beramal hingga akhirnya dapat ‘menjaring’ Haji Jaya jadi simpatisan dan kader PKS.

Saat bertemu, beliau bercerita kepada saya bagaimana dia bisa mempunyai pasar. Awalnya adalah adanya niat memberi manfaat bagi masyarakat. Untuk mencapai pasar, rata-rata warga Pedes, Batu Jaya dan Pakis Jaya mesti ke Pasar Rengas Dengklok, dengan menempuh jarak 3-4 km. Pikirannya sederhana, andai ada pasar yang lebih dekat, alangkah baiknya. Karena itu, semangat membangun pasar kian membara.

Dengan kemampuan seadanya, dimulailah proses panjang membangun pasar. Bukan cuma perkara kebutuhan dana yang cukup besar, tapi perizinan yang njlimet dan panjang pun sangat menguji kesabaran. Gangguan dari para preman dapat ditundukkan dengan mudah, bukan karena Haji Jaya seorang jawara, tapi karena niatnya yang tulus mengajak para preman sadar seperti dirinya. Alhamdulillah satu bulan setelah soft launching aktivitas pasar sudah cukup ramai. Hasil kunjungan dan bincang-bincang saya dengan para pedagang menunjukkan optimisme yang cerah. Langkah Haji Jaya sebenarnya sudah banyak dicontohkan para ulama kita sejak dulu. Bahkan sejak zaman Nabi Muhammad saw melalui sosok Abdurrahman bin Auf. Para Imam Mazhab juga mencontohkan betapa kebebasan finansial membuat mereka sangat independen dalam membuat fatwa. Bahkan para Wali Songo juga mencontohkan betapa kekuatan ekonomi dan budaya merupakan dua fondasi dalam proses islamisasi super cepat di nusantara. Bahkan Imam Syahid Hasan Al Banna mengingatkan kita, “Berdaganglah kalian, karena nabimupun seorang pedagang.”

Setidaknya ada tiga pelajaran besar yang bisa diambil dari kisah Haji Jaya ini. Pertama, pilar kekuatan ekonomi umat didasari pada kemandirian kita memenuhi kebutuhan sendiri. Membiasakan jual beli diantara sesama umat. Tidak mengeluarkan uang untuk bukan umat mesti dijadikan slogan. Pembawaan Haji Jaya sangat sederhana. Memakai sandal dan motor kemana-mana. Jumlah pekerja 4 orang. Dua keamanan, satu mandor dan satu administrasi. Prinsip menghindari ‘besar pasak daripada tiang’ sangat dijaga. Prinsip bahwa setiap pribadi muslim menjaga pengeluaran dengan fokus pada need (kebutuhan) bukan pada want (keinginan). Setiap ingin membeli atau mengeluarkan uang, selalulah bertanya adakah perlu?

Kedua, pelajaran lain dari Haji Jaya adalah jangan takut merealisasikan mimpi dan cita-cita. Jangan pernah mundur karena hambatan atau beratnya proses. Fokus dan terus maju dalam mewujudkan cita. Yakinlah, waktu yang diberikan Allah kepada kita adalah untuk melakukan amal terbaik. Untuk menghadirkan umat terbaik. Jika setiap kita mencoba menghadirkan kontribusi untuk kekuatan ekonomi umat Insya Allah kita dapat mewujudkan sabda Nabi saw, “Tangan diatas lebih baik daripada tangan yang dibawah”.

Ketiga, buatlah usaha/proyek yang diperlukan masyarakat. Product Oriented mesti diubah ke market oriented. Dengan kejelian, jika perlu lakukan analisa pasar, kita dapat menetapkan jenis usaha/jasa yang diperlukan masyarakat. Selanjutnya adalah menetapkan standar kualitas. Pasar Haji Jaya bukan cuma sekedar tempat transaksi tapi ada taman kecil, mushola, BPR, warung nasi, pengelolaan sampah hingga harga sewa harian yang terjangkau. Tak heran, hingga saat ini waiting list dari masyarakat yang ingin menjadi penyewa toko/kios atau lapak mencapai 60-an orang.

Haji Jaya sudah memberi contoh bagi kita—para kader dakwah— bahwa wejangan KH Ahmad Dahlan , “Hidup-hidupkanlah Muhammadiyah. Jangan Hidup dari Muhammadiyah.” Dapat diwujudkan. Sebagai kader partai dakwah, kita mesti memiliki semangat untuk dapat menghidupkan partai dakwah ini jangan malah hidup dari partai dakwah. Pribadi kita mestilah menjadi cermin dari kerja keras, hemat, bersahaja, gemar berinfaq. Yang utamanya didasari pada kemampuan kasbul ma’isyah (produktivitas dalam mendapatkan penghasilan yang halal dan cukup bahkan mampu berinfaq.

Jika dulu sahabat Abdurahman bin Auf dapat menjadi ahlul jannah melalui ‘kekayaan dan kedermawanannya’ kita yang hidup di zaman modern pun dapat mengikuti jalur yang ia lalui menuju syurga, melalui pembangunan ekonomi umat. Haji Jaya dengan segala keterbatasan dan kekuarangannya sudah mampu menghidupkan ekonomi masyarakat sekitar. Pertanyaannya, apa yang sudah kita berikan pada umat ini? Semoga Allah Ta’ala memberi kita kemudahan dalam mencari dan mewujudkan kontribusi bagi umat. Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s