Antara Mamma Mia dan Palestina

Akhir November 2013 lalu saya mendapat tugas mewakili Komisi 1 menghadiri Sidang Umum PBB bersama Kemenlu di New York. Tema yang dibahas adalah Articles 36 dan 37 tentang Question on Palestine and The Middle East. Alhamdulillah dari 6 resolusi yang dihasilkan—lima tentang Palestina dan satu tentang Syuria—secara umum mayoritas negara Anggota PBB menerima resolusi tersebut.

Secara umum, negara yang menolak selalu hampir sama: Israel, Amerika, Kanada, Australia, Federal State of Micronesia, Marshal Island dan Palau. Angka abstain antara 20 sampai 50- an negara anggota. Mayoritas anggota, diatas 120-an menyetujui resolusi yang dihasilkan. Bahkan negara-negara seperti Kuba, Venezuela, Jepang, Cina bahkan Laos pun bergabung bersama dengan Maldives, negara-negara Arab, Malaysia, Indonesia untuk mendukung resolusi.

Ada catatan menarik saat Wakil Tetap Israel untuk PBB menyampaikan pendapatnya terhadap resolusi. Dengan bahasa Inggris yang fasih, intonasi yang jelas, gaya bicara yang menarik dan perlahan, menyampaikan pesan bahwa yang dilakukan Israel pada Palestina tidak lain adalah kebaikan. Ada 100.000 lebih penduduk Palestina bekerja di Israel menyumbang tidak kurang 10% GDP Palestina. Israel menyediakan fasilitas kesehatan dan air bersih bagi penduduk Palestina. Kenapa kami selalu disalahkan dalam banyak resolusi?

Alhamdulillah, dengan diplomasi yang cantik dan konsisten, mayoritas negara anggota tetap dapat melihat dengan jernih betapa keras kepala dan arogannya Israel yang terus membangun pemukiman ilegal dengan menggusur dan menghancurkan tanah serta rumah-rumah warga Palestina. Karena itu, hampir semua resolusi tentang Palestina selalu sukses. Persepsi bahwa Palestina bukan cuma masalah Timur Tengah atau negeri-negeri Muslim tapi masalah kemanusiaan, telah dipahami dengan jelas. Karena itu, apresiasi bagi Kemenlu dan para pejuang diplomasi yang tekun bekerja mewujudkan jalan panjang negara Palestina yang berdaulat. Mandiri dan sejahtera.

Hal menarik lain yang didapat adalah bagaimana kekuatan diplomasi harus didukung dan diperkuat dengan kekuatan seni dan sastra. Bersamaan dengan pembahasan diplomasi Palestina di Sidang umum PBB, dibuat pula Konser Rakyat Palestina di Gedung Ecosoc yang tidak jauh dari Markas Besar PBB juga di New York. Menampilkan pemenang Arab Idol yang kebetulan dari Palestina, Muhammad Assaf, konser tersebut juga merupakan bagian dari diplomasi budaya dan seni bagi pengukuhan eksekusi Palestina.

Konser yang berlangsung semarak di tengah dingin dan beranginnya New York di akhir November cukup mampu menghibur penonton untuk menikmati sajian campuran budaya Arab dan budaya pop dalam suasana Palestina yang nyaman dan menghibur. Seni dan juga budaya, terbukti merupakan kekuatan yang mampu melembutkan, memanusiakan serta meninggikan akal budi manusia.

Esoknya, saya diajak kawan yang tinggal di New York untuk melihat drama teater yang sudah 12 tahun berlangsung di Broadway. Didasari keingintahuan seperti apakah teater Broadway yang terkenal itu, saya menerima tawaran itu.

Apa yang membuat banyak orang rela mengantri, kadang lebih dari dua jam di malam yang dingin sebelum masuk ke dalam gedung Broadway? Begitu pertanyaan saya melihat antrian yang cukup panjang jauh sebelum pukul 20 saat pertunjukan dimulai.

Kebetulan drama berjudul Mamma Mia ini sudah bertahun-tahun bertahan menarik penikmat yang rela membayar US$ 140 untuk pertunjukan selama 2,5 jam itu. Duduk disamping ibu-ibu asal Yunani, saya coba menyelami apa yang membuat Mamma Mia mampu membius banyak penonton bukan hanya di New York tapi juga di banyak kota besar di dunia.

Dan takjubnya, mengikuti jalan cerita yang sederhana dan khas barat tentang seorang anak gadis yang berusaha mencari tahu siapa ayahnya karena dia dibesarkan single mother, drama Mamma Mia memang menarik. Bukan hanya kemampuan olah vokal dan gerak tari yang menarik, tapi kesederhanaan jalan cerita diiringi dengan gubahan lagu grup ABBA mampu membuat 2,5 jam bukan merupakan waktu yang lama. Penonton yang memenuhi ruang teater tidak kurang dari 600-an penonton serentak berdiri dalam keriangan saat konser berakhir mengiringi standing applaus panjang bagi para aktor dan aktris yang mementaskan drama itu.

Teater Broadway bersama dengan produktivitas Hollywood memproduksi film terbukti sangat efektif untuk menjadi jalan bagi hegemoni Barat pada dunia. Pesona film, drama, novel, buku, karya sastra dan lainnya merupakan ‘senjata’ efektif dan ‘menyenangkan’ dalam menaklukkan alam pikiran dan kehendak hati masyarakat dunia. Tidak heran, pelajaran sastra dan budaya menjadi mata pelajaran wajib yang diajarkan sejak sekolah dasar hingga perguruan tinggi di banyak negara. Dengan pendidikan berkualitas.

Pelajaran yang bisa diambil, bahwa diplomasi seni dan budaya bisa sama efektif atau bahkan menghasilkan dampak yang jauh lebih dahsyat ketimbang diplomasi senjata ataupun diplomasi perundingan. Karena itu, keberadaan sejumlah kader yang memiliki kemampuan seni dan budaya mumpuni mesti menjadi agenda utama gerakan Islam. Penulis, script writer, sutradara, dramawan, aktor dan aktris hingga penata suara ataupun penata cahaya dan semua insan seni dan budaya memiliki ruang jihad yang juga sama mulianya dengan mereka yang berjihad di lapangan diplomasi, perekonomian, pertahanan hingga jihad memerangi korupsi. Moga Allah Ta’ala memudahkan lahirnya penulis, sutradara hingga aktor dan aktris yang mengembang misi rahmatan lil ‘alamin…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s