Leadership Factor Pada Pilpres 2014

John C. Maxwell dalam bukunya, The Leadership Gold (2008), menjelaskan bahwa ‘almost everything rise and fall on leadership.’ Hampir segalanya jatuh dan bangun karena kemimpinan.

Di awal kemerdekaan hingga tahun 60-an kepemimpinan Sukarno—terlepas dari keruwetan politik dan ekonomi dalam negeri—menginspirasi banyak negara untuk merdeka dan mewujudkan martabat bangsa Indonesia yang mampu membangun Gelora Senayan yang terbesar dikawasan Asia, menyelenggarakan Asian Games tahun 1964 hingga terbangunnya Gedung Kesenian dan museum-museum yang berkualitas.

Pasca reformasi, khususnya masa kemimpinan SBY, banyak pihak menyayangkan hilangnya peluang emas berupa demograpic benefit dimana tidak semua negara memiliki keuntungan jumlah dan usia produktif penduduk terbesar didunia. Kebijakan pendidikan yang tambul sulam, kebijakan ekonomi yang tidak ekspansif hingga ketergantungan pada asing yang tetap tinggi merupakan sedikit fakta yang tampak nyata.

Lalu kepemimpinan seperti apakah yang dibutuhkan Indonesia, khususnya menjelang Pilpres 2014? Dan apakah gerakan dakwah sudah menyiapkan diri memgambil momentum perubahan?

Pentingnya menyiapkan diri menghadapi Pilpres 2014 bagi gerakan dakwah sangat menentukan orientasi bangsa ini ke depan. Terpilihnya Capres seperti Jokowi, Prabowo atau Sri Mulyani sangat memungkinkan membuat Indonesia menjadi negara yang maju, kuat secara ekonomi, komitmen pada demokrasi—tapi minus visi keummatan.

Maksud visi keummatan adalah wujudnya kebijakan yang pro pada penguatan ekonomi umat (ekonomi syariah, koperasi syariah, UKM ummat hingga pengelolaan zakat yang lebih optimal dengan peran negara), institusi pendidikan umat (masrasah, pesantren dan turunannya) ataupun ormas-ormas Islam yang perlu diperkuat basis institusi, manajerial hingga SDM nya. Peluang terjadinya survival of the fittes, dimana kekuatan umat yang masih relatif lemah dan tertinggal akibat diskriminasi kebijakan puluhan tahun untuk bertarung secara pasar bebas dengan institusi milik kelompok nasionalis, liberal ataupun kawan-kawan etnis keturunan, sangat besar terjadi.

Kita tahu penguasaan ekonomi, lembaga pendidikan, media dan LSM yang non keummatan jauh lebih established dibanding milik umat.

Tanpa menutup peluang bahwa capres-capres dari parpol atau komunitas nasionalis diatas yang bisa saja diajak untuk juga memihak agenda keummatan, peluang besarnya jika gerakan Islam mau mewujudkan capres yang dari awal memang lahir dari gerakan dakwah dan gerakan keummatan. Baik dari parpol Islam ataupun ormas Islam yang sejak awal akrab dan memperjuangkan agenda umat.

Sekali lagi, ini tidak melulu mengharuskan kita melupakan upaya mendekati dan menawarkan agenda keummatan pada siapapun capres yang kemungkinan besar akan membawa Indonesia maju pada pilpres 2014 ini. Karena bisa jadi capres dari basis keummatan memiliki peluang juga untuk terjerembab pada kubangan korupsi dan tidak mewujudkan good coorporate government ataupun good governance. Karena syarat dan komitmen untuk memberantas korupsi, berperilaku sederhana, menjadi contoh teladan dan memiliki integritas untuk memperjuangkan transparansi serta akuntabiltas publik adalah suatu syarat dasar dari semua capres.

Artinya jika semua syarat dasar sudah terpenuhi maka pilihan berukutnya adalah capres yang dekat dan memiliki agenda keummatan. Jika diminta memilih antara capres yang dekat dengan umat tapi memiliki masalah dengan syarat dasar, dan capres dari kalangan non umat tapi memiliki syarat dasar saya memilih capres yang memenuhi syarat dasar lebih utama.

Lalu siapakah capres yang lahir dari rahim gerakan keummatan dan yang memiliki komitmen memajukan ummat?

Ada dua lapis menurut saya; ada pak Hidayat Nur Wahid, Yusril Ihza Mahendra, Pak Suryadarma Ali ataupun yang terbaru Habieb Riziq. Lapis kedua adalah mereka yang memiliki kedekatan dengan ummat, ada Pak Mahfud MD, Pak Hatta Rajasa, Pak Muhaimin Iskandar dan bisa juga dimasukkan Pak Dahlan Iskan.

Pasti banyak kontroversi dengan dimasukkannya nama dan kategorisasinya. Tapi secara umum memang fokusnya adalah agenda keummatan. Makin cepat umat memiliki kesamaan pandangan dan paradigma, makin baik hasil bagi tersosilisasikannya agenda keummatan pada para capres. Karena, salah satu problem terbesarnya adalah memasivikasi pesan. Antara pesan keummatan yang benar dan strategis, dengan proses masifikasinya adalah dua hal berbeda. Dengan media mainstream baik TV, cetak, online dan radio yang mayoritas bukan milik umat kita punya tingkat kesulitan untuk menyatukan dan memasifikasi sikap dan suara umat agar optimal dalam Pilpres 2014.

Lalu apa langkah yang harus kita lakukan?

Bagaimana pun adanya kesatuan langkah umat baik di tingkat elit maupun di tingkat grassroot sangat perlu segera dilakukan. Ditingkat elit, alangkah baiknya jika semua calon pimpinan dari kalangan umat dapat duduk bersama, berdiskusi dalam kerangka kepentingan umat serta menyatukan pendapat untuk menyatukan sikap dan suara umat menuju satu gerak. Karena itu, dalam beberapa kesempatan saya mengangkat isu koalisi keummatan dalam Pilpres 2014.

Poros umat perlu segera menyatukan shaf, khusunya dikalangan pimpinan umat. Sesudah itu tugas kita bersama menyosialisasikannya pada seluruh shaf dan barisan umat melalui saluran-saluran yang kita miliki. Sehinga menjelang 2014 akan tercapai sikap yang satu, solid dan kokoh dari suara dan sikap umat sehingga daya tawar dan daya jual kita meningkat.

Siapa yang akan memulai?

Saya berpikir semua harus memiliki inisiatif untuk segera menggulirkan ide koalisi keum-matan menghadapi Pilpres 2014. Parpol Islam dan Parpol berbasis umat Islam bisa saling berkompetisi dalam pileg tetapi harus bekerjasama dalam pilpres 2014, karena nilai strategis Pilpres sangat menentukan masa depan umat.

Dalam sistem Presidensil kita, posisi Presiden sangat kuat. Bahkan dengan tidak adanya MPR yang memiliki hak membuat GBHN, maka kemana dan seperti apa Indonesia ke depan sangat bergantung pada sosok Presidennya. Dengan kepemimpinan yang kuat, presiden dapat menggalang kekuatan publik bahkan juga DPR, untuk mendukung ide dan gagasan masa depan Indonesia yang ramah dan mendukung kekuatan umat.

Kita merindukan sosok Presiden yang akrab dengan terminologi ummat, yang tidak nyaman dengan konser-konser musik asing apalagi cadas beserta budaya barat yang merusak lainnya. Presiden yang mencintai rakyatnya karena takut pada Allah SWT. Presiden yang mau memajukan masjid, pesantren, UKM dan ekonomi syariah serta budaya Islami.

Kita masih punya waktu.

Ayo kita desak para pimpinan umat untuk bersatu demi agenda besar keummatan dalam kerangka keindonesiaan yang kuat.

Wallhu a’lam bishawab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s