Masyarakat Bawah Mesti Bisa Merasakan Realitas Pidato SBY

Memang ada kemajuan yang dinakhodai SBY, namun SBY juga harus melihat fakta yang ada di masyarakat, terutama masyarakat lapisan bawah; petani, pedagang kecil, kaum buruh, masyarakat perbatasan yang masih hidup susah. Jangan hanya berpikiran positif, lalu merasa puas, sehingga meremehan fakta miris di lapangan, “Boleh ‘positive thinking’ tapi tetap harus ‘membumi, masyarakat harus merasakan betul ‘isi’ pidato SBY’” demikian ujar Mardani terhadap pidato  SBY yang dsampaikan dalam pidato kenegaraan di  Komplek  DPR/MPR/DPD RI pagi tadi (16/8/2013).

Lebih lanjut Mardani mengungkapkan bahwa klaim positif kinerja SBY jangan menjadikannya ‘ujub’ dan merasa telah maksimal dalam melaksanakan tugasnya sebagai presiden RI. “SBY harus melihat fakta lapangan yang banyak membuat miris kita. Ada beberapa hal yang perlu dicermati dari pidato tersebut” Lanjut Mardani Anggota Komisi I DPR RI di Senayan siang ini.  

Berikut beberap poin pidato yang menjadi perhatian Mardani:

Yang pertama: SBY memang mengawali pidatonya dengan menyentuh persoalan dasar bangsa, sesuai amanat UUD–bahwa kemerdekaan adalah hak semua bangsa, khususnya pernyataan tentang Mesir yg simpatik. Hal ini layak diapresiasi, SBY menyatakan bahwa penggunaan kekerasan oleh militer mencederai demokrasi. Namun, sebagai pemimpin negara muslim terbesar di dunia, SBY harus lebih aplikatif, tidak terbatas himbauan. Langkah konkirtnya dalah dengan menarik Duta Besar RI dari Mesir. Ini akan memberi efek besar pada Mesir, karena keberadaan Indonesia yang negara Muslim. Bisa jadi, kita akan menjadi pioneer negara2 muslim lainnya dalam memberi tekanan dalam penyelesaian kudeta militer di Mesir. Jerman, Perancis, dan Inggris saja sudah menarik para Dubesnya.

Kedua, terhadap isu ekonomi. Memang, Indonesia memiliki gambaran ekonomi-makro yg relatif baik, namum Presiden dan seluruh jajaran eksekutif perlu lebih bekerja keras menyelesaikan PR perekonomian bangsa. Muai rasio gini yang tinggi (0,41) dan ketergantungan pada pangan dan energi pada impor yg tinggi.

Kondisi fatamorgana ini membuat tingkat kemiskinan kita sejak 2004 sampai 2013 cuma turun sekitar 4%. Inilah fakta yang ada, mestinya SBY berpijak dari fakta ini sehingga menjadikan SBY lebih bekerja keras di sisa masa pemerintahannya.

Ketiga terkait kerukunan dan toleransi, Presiden perlu lebih tegas dalam mengambil keputusan. Jangan hanya sekedar himbauan dan ungkapan ‘prihatin’. Perlindungan terhadap mereka yg dizalimi baik dari kalangan petani, buruh, masyarakat miskin perkotaan termasuk minoritas perlu lebih asertif. Berikan fakta, jangan hanya berwacana. Biar media yang berwacana. Eksekutiflah sang pelaksana.

Keempat terhadap isu pemberantasan korupsi, Presiden bisa lebih mendorong kepolisian dan kejaksaan untuk sama-aktif dan sama-berprestasinya seperti KPK. Tindak mereka yang salah dengan hukuman maksimal, termasuk memberikan efek jera terhadap para pelaku korupsi.

Terakhir, di sisa masa kepemimpinannya Presiden SBY agar bisa meninggalkan warisan yang dikenang. Hal yang dapat dikenang dari seoprang SBY adalah jika lebih berani mengambil sikap tegas dengan keberpihakan yang jelas; berpihak pada kebanaran-tidak hanya pada mayoritas, meskipun bisa menjadi hal ini tidak populer. Sudah saatnya pandangan menjadi ‘anak baik’ kita hilangkan untuk wujudnya Indonesia yg mandiri, berdaulat dan tangguh.

So, SBY boleh ‘positive thinking’ tapi tetap harus ‘berpijak di bumi’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s