Membangun Kelas Menengah Kader

Jika melihat sirah Nabi saw, kita akan tahu bahwa di antara pengikut awal beliau adalah sahabat berkategori kuat secara ekonomi. Sebut saja diantaranya Abu Bakar, Utsman, Abdurrahman bin Auf dan Umar bin Khattab. Bahkan Nabi saw bersama sang istri Khadijah ra. termasuk dalam kelompok ekonomi kuat sebagai pedagang sukses. Tidak heran jika dalam al Qur’an ada banyak ayat yang memerintahkan infaq, zakat dan sedekah. Hanya dua ayat saja yang memuat tentang fuqara dan masakin.

Tidak hanya itu, keempat Imam Besar kita: Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali, semuanya terkategori sebagai pedagang besar yang memiliki financial freedom, sehingga sangat tegas dalam memberikan fatwa. Maka nampak jelas bahwa hubungan dakwah dengan ekonomi sejak awal sangat simbiosis mutualisme.

Pada awalnya dakwah memerlukan back up kekuatan ekonomi kadernya. Tapi pada kondisi ketika dakwah sudah meluas dan mendapat dukungan publik, justru ekonomi kader dan jamaah akan sangat terbantu. Pada tahap inilah kegagalan menyeimbangkan antara prestasi rekrutmen dakwah dengan penyiapan ‘kelas menengah kader’ akan membawa dampak pada tidak kokohnya perkembangan dakwah.

Pada suatu kondisi, dakwah harus memasuki tahap objektifikasi nilai-nilainya menjadi prestasi amal kebajikan dengan semua instrumennya. Publik harus merasakan keindahan nilai dakwah melalui layanan-layanannya baik barang atau jasa yang diakui publik. Dalam konteks perjuangan dakwah kita di Indonesia, dimana medan politik menjadi salah satu medan utamanya, biaya politik cukup tinggi. Oleh karena itu, terbentuknya ‘kelas menengah kader’ akan menjadi tulang punggung utama. Tanpa dukungan kelas menengah, ada kecenderungan yang mesti diperhatikan: merebaknya ‘ekonomi rente’, ‘ekonomi orang tengah/makelar’ hingga dijadikannya kader atau institusi sebagai kendaraan bagi mereka yang memiliki kekayaan. Jika ini terjadi perkembangan dakwah bisa terganggu.

Lalu bagaimana kelas menengah kader dibangun? Yang pertama perlu didefinisikan apa yang dimaksud dengan ‘kelas menengah’. Dalam kategori ekonomis, ‘kelas menengah’ didefinisikan mereka yang berpenghasilan 2 – 20 dolar sehari. Biasanya dengan penguatan ekonomi, kelas menengah juga menikmati posisi sebagai pressure group di masyarakat. Lebih mandiri dan lebih vokal. Latar belakangnya bisa mereka yang dengan kekuatan intelektualnya menjadi birokrat, kelompok middle manajemen di perusahaan hingga mereka yang mempraktekkan wirausaha.

Dalam konteks inilah hadits Nabi bahwa 9 dari 10 pintu rizki itu melalui bisnis. Imam Hasan Al Bana bahkan mengingatkan kita dengan kata-katanya, “Berdaganglah kalian karena Nabimu pun seorang pedagang.” Ustadz Anis Matta pun pernah menjelaskan, dari tiga kelompok masyarakat, kalangan privat sector (usahawan penggerak ekomomi) jauh lebih powerful dibanding kalangan public sector (pemerintah dan negara dengan seluruh perangkatnya) dan third sector (sektor ketiga yang terdiri dari kekuatan masyarakat sipil). Seorang Bill Gates, pada 2004 memiliki kekayaan 56 bilyun US dolar mendekati angka APBN Indonesia pada tahun itu 600 trilyun rupiah. Seorang George Sorros dapat memporak-porandakan perekonomian negaranegara Asean ditambah Korea pada tahun 1997 lalu.

Tidak ada langkah instan dalam membangun bisnis. Jika melihat biografi para pahlawan ekonomi yang berjuang melalui jalur bisnis, biasanya mereka memiliki karakter diri yang amat mirip dengan pejuang dakwah. Di antaranya:

Pertama, memiliki etos kerja yang tahan banting. Seperti juga da’i yang tak pernah menyerah dalam membina umat, seorang enterpreneur selalu mampu bangkit dari berbagai krisis atau tekanan yang datang. Perhatikanlah kisah Liem Shio Liong, keluarga Suryajaya, keluarga Riady hingga keluarga Haji Kalla atau keluarga Bakrie.

Kedua, selalu inovatif dalam melihat peluang bisnis. Seorang dai akan sukses jika mampu menampilkan dakwah yang berkesan, relevan dan diperlukan, demikian juga usahawan. Kisah pak Utomo melahirkan minuman kemasan Aqua atau group Ciputra yang mengubah kawasan Bintaro jadi The Professional City bukti betapa pasar bukan hanya dicari tapi diciptakan.

Terakhir, usahawan selalu tahu rumus: makin dermawan makin banyak untung. Google adalah perusahaan paling cepat berkembang di dunia. Rahasianya satu: dermawan memberikan layanan search engine google dan layanan email gratis gmail dengan kapasitas yang terus meningkat. Da’i pun demikian, tingkat keberkesa-nannya ditentukan tingkat keikhlasan dan kedermawanan-nya.

Membangun kekuatan dakwah tanpa dibarengi kekuatan ekonomi pasti pincang. Karena itu, wajib hukumnya bagi gerakan dakwah untuk segera mewujudkan ‘kelas menengah kader’ yang menjadi tiang bagi kekuatan dakwah itu sendiri. Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s