Hadirkan Lemsaneg Yang Kokoh

Image

Lemsaneg (Lembaga Sandi Negara) Republik Indonesia (RI) sudah dalam kondisi perlu perhatian khusus. Seperti terkuak dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi I-membidangi pertahanan,intelijen, luar negeri, komunikasi, dan informasi-pekan lalu, banyak hal yang perlu perbaikan agar eksistensi Lemsaneg bisa menambah kokoh sendi-sendi pertahanan kita dalam berbangsa dan bernegara. Untuk menciptakan negara yang kokh, di antaranya dibutuhkan Lemsaneg yang kokoh pula,

Lemsaneg yang berdiri sejak 4 April 1946 (telah 67 tahun) harus menjadi sebuah lembaga yang kuat. Permasalahan negara yang muncul kerap disebabkan tidak dihargainya eksistensi Lemsaneg. Kebocoran data Surat Perintah Penyidikan (Sprindik) KPK, juga isu-isu sensitif lainnya-kawat SBY yang bocor di wikileaks, meskipun masih diperdebatkan akurasinya-jelas menunjukkan pentingnya peningkatan nilai dan ‘kemampuan’ Lemsaneg sebagai benteng pertahanan data Indonesia.

Lemsaneg harus bisa bersaing dengan lembaga-lembaga sandi negara lainnya, bersaing dalam meningkatkan kemampuan dan kekuatan kelembagaan, sehingga menjadikan lembaga yang kokoh. Bundesnachrichtendienst milik Jerman yang berdiri sejak 1946, juga memiliki rentang waktu usia yang sama dengan usia Lemsaneg. Atau membandingkan kinerja dengan ASIS Australia yang relatif ‘lebih muda’, berdiri sejak 1952, juga dengan NSA Amerika (1952) .Bandingkan apa yang telah dicapai mereka dan apa yang telah Lemsaneg dapatkan, agar tidak merasa jumawa dengan ‘belajar’dari negara lain.

Kekuatan institusi Lemsaneg sebenarnya sudah dimulai sejak berada di bawah Presiden RI sejak tahun 1962-sebelumnya di bawah Kementerian Pertahanan-. Dengan Kepres terbaru yang dimilikinya, Kepres nomor 103/2001, Lemsaneg sebagai sebuah Lembaga Pemerintahan Non Departemen (LPND) yang berada di bawah kendali presiden langsung, semestinya memiliki energi baru dan besar dalam mengembangkan kiprahnya untuk bangsa dan negara. Dengan berada di bawah presiden langsung menjadikan Lemsaneg lebih bebas dalam melaksanakan tugasnya, selama sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.   

Sudah semestinya, menjaga kerahasiaan informasi menjadi tamggung jawab bersama semua lembaga/kementerian di Indonesia, dengan panduan dari Lemsaneg. Hal ini akan menjadi modal pokok dalam enskripsi data yang dimiliki guna mengantisipasi perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang tumbuh sangat cepat, dan berdampak pada meningkatnya ancaman terhadap penyalahgunaan/penyusuan informasi oleh pihak-pihak yang berniat tidak baik, bahkan jahat.

Di era globalisasi dan keterbukaan informasi, Lemsaneg menjadi sebuah institusi yang layak mendapat perhatian khusus dalam peningkatan pertahanan Indonesia, juga di dunia maya. Cyber war jangan menjadikan Indonesia sebagai pihak yang kalah. Meskipun tidak harus selalu-menang, namun Indonesia harus menjadi entitas yang sulit ditembus penyusup. Situs presiden SBY ( www.presidensby.info) yang sempat disusupi oleh Wildan, penjaga warnet, menjadi salah satu bukti lemahnya pertahanan kita di dunia maya. Selain lemah di sisi teknologi, penggunaan nama ‘.info’ untuk situs tersebut juga patut dipertanyakan, karena Indonesia sudah memiliki ‘.id’. Selayaknya, Lemsaneg berperan di sini dalam membuat SOP (Standard Operating Procedure) dalam pengelolaan situs-situs pemerintah.

Masih banyak masalah sensitif dalam pengamanan data yang bisa menjadi lubang penyusup dan dapat menganggu sistem pengolahan data kita. Semua hanya dapat diminimalisasi dengan membentuk Lemsaneg sebagai sebuah entitas yang kokoh, kuat, mapan, dan tahan terhadap segala permasalahan kebocoran. Jikapun ‘bocor’ maka usaha pencegahan menyebar dapat segera dilakukan, sehingga tidak menimbulkan efek domino yang lebih dahsyat.

Mengacu pada situasi di atas dan dalam peningkatan eksistensi Lemsaneg, maka setidaknya ada tiga usaha yang dapat dilakukan demi pencapaian Lemsaneg yang kokoh dan dapat diandalkan.

Hal PERTAMA yang perlu diperhatikan, adalah kenyataan Lemsaneg yang masih MoU oriented (berorientasi mendapatkan nota kesepahaman). Dalam RDP tercetus keinginan untuk dapat dberi kesempatan mendapatkan MoU dengan lembaga/kementerian lain. Meskipun berargumen demi keamanan data-kelembagaan, namun ada yang kurang jika pendekatannya hanya MoU. Akan lebih baik, jika Lemsaneg dapat memaksimalkan diri dan menjadi lembaga yang dapat dipercaya dan ‘dibutuhkan’.

Lemsaneg harus bisa mnjadi pioneer/pelopor dalam peningkatan aware lembaga/kementerian akan keamanana data. Perlu usaha ekstra dari Lemsaneg dalam ‘menjual’ kepedulian ini. Aksi ‘simpatik’ Lemsaneg perlu dilakukan agar banyak pihak mau dan peduli dengan Lemsaneg.

Mutiara yang di laut dalam, akan tetap dicari dan berharga tinggi. Jadilah Lemsaneg yang bernilai tinggi, sehingga mendapat perhatian lebih lembaga lain, misalnya dengan menemukan metode penyandian yang mudah,murah, dapat dipercaya namun kuat dan akurat dari segi keamanan. Untuk itu, perlu alokasi tinggi di bidang riset di lingkungan Lemsaneg. Alokasi tinggi yang efektif dan efisien, sehingga menjadikan program turnan dari Lemsaneg sebagai program yang tepat. Perencanaan program menjadi hal yang utama dalam memanfaatkan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang ada, karena gagal merencanakan (APBN) sama saja dengan merencanakan kegagalan.

KEDUA, lakukan kerja sama dengan negara lain berasas manfaat namun ketat. Manfaat, agar kerja sama yang terjalin dalam kaidah simbiosis mutualisme, saling menguntungkan bukan parasitisme apalagi jika Lemsaneg (Negara) yang menjadi inangnya. Ketat bermakna kerja sama terjalin harus ketat dalam isu-isu sensitifitas keamanan. Jadi, meski bekerja sama dengan negara lain, faktor eksistensi negara harus diutamakan.

Dalam hal ini, kerja samapun terjalin dengan negara yang taat-asas, bukan seperti yang dilakukan Lemsaneg saat ini, menjadikan negara Israel sebagai penyedia perangkat jammer (pengacak sinyal). Jelas, kerja sama ini bukan kerja sama taat-asas. Indonesia adalah negara yang menjunjung kemerdekaan sebuah bangsa, karena kemerdekaan adalah hak. Hak ini yang tidak diberikan Israel kepada Palestina. Juga, tidak taat-asas lainnya, adalah Indonesia belum membuka hubungan diplomatik apapun dengan Israel. Bagaimana mungkin Lemsaneg melakukan kerja sama dengan Israel, jika pemerintah belum membuka hubungan diplomatik. Alih-alih kerja sama ini membawa keuntungan signifikan untuk Indonesia, justru membawa hal negatif karena Israel telah menjadikan Lemsaneg sebagai ‘inang’ untuk simbiosis parasitisme yang direncanakan Israel. Untuk selanjutnya,  Lemsaneg perlu memikirkan cara yang bijak dan cerdas dalam melakukan kerja sama dan juga, seperti Kepres yang dimiliknya harus sesuai dengan  peraturan perundangan yang ada.

KETIGA, di tengah kebutuhan Sumber Daya Manusia (SDM) yang sulit di bidang ahli-persandian, keberadaan Lemsaneg harus benar-benar atraktif. Di sini perlu usaha ekstra dari ‘pencari bakat’ di Lemsaneg sehingga kebutuhan SDM terpenuhi. Ada dua cara yang dapat ditempuh: internal dan eksternal. Internal yaitu optimalisasi setiap kader Lemsaneg sebagai ‘pencari bakat’ dengan sensitifitas yang tinggi akan kualitas SDM yang dibutuhkan. Dengan reward-yang tidak mesti berbentuk uang-ini bisa menjadi pemicu setiap insan Lemsaneg berlomba-lomba mencari dan menemukan SDM sebagai penunjang peningkatan nilai-nilai lembaga. Selain itu, perlunya upgrading SDM yang ada sehingga berdaya ‘tempur’ tinggi. Pelatihan melek Teknologi Informasi (TI) dari tingkat dasar (junior) hingga tingkat pakar (advanced) dapat mencegar para penyusup memanfaatkan data-data sensitif yang dimiliki bangsa. Juga, menjadikan Lemsaneg sebagai sebuah institusi yang disegani dan menjadi rujukan lembaga lainnya, karena keandalan personil di Lemsaneg. 

Cara eksternal tentu saja dengan membuka lowongan terbuka, namun seleksi tertutup bagi mereka yang lulus, sejak lulus persyaratan administratif. Perlunya seleksi tertutup untuk menjaga aset SDM Lemsaneg. Pemampangan foto bagi para wisudawan di laman institusi sebaiknya dikurangi agar publik-terutama pihak ‘lawan’ tidak dapat membaca sosok-sosok di balik Lemsaneg. Cabe merah di logo Lemsaneg pun mengindikasikan ‘kerahasiaan’. Maka, mengawali dengan merahasiakan para lulusan adalah sebuah langkah bijak di tengah era keterbukaan informasi.

Penerapan cara internal-eksternal akan menimbulkan efek dahsyat dalam penciptaan SDM berkualitas di lembaga. Sinergisitas usaha internal-eksternal dalam pemenuhan SDM yang berkualitas dapat tercapai dan kebutuhan SDM berkualitaspun menjadi sebuh hal yang niscaya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s