The Jokowi Effect dan Masa Depan Dakwah

The Jokowi Effect dan Masa Depan Dawah

The Jokowi Effect dan Masa Depan Dakwah

Perkenalan saya dengan Pak Jokowi agak unik. Saat jadi Sekretaris Majelis Pertimbangan Pusat (MPP) PKS, saya mendapat amanah menjadi panitia Seminar Nasional MPP PKS dengan tema: Otonomi Daerah dan Kesejahteraan Rakyat. Idenya sederhana, setelah lebih dari satu dekade pelaksanaan otonomi daerah, MPP PKS ingin melihat sejauh mana efektivitas pelaksanaan dan dampak otonomi daerah tersebut pada kesejahteraan masyarakat. Sesuai dengan tupoksinya, tugas MPP PKS adalah melakukan pengkajian dan memberikan rekomendasi kebijakan strategis partai kepada DPP PKS.

Salah satu daerah yang kami nilai cukup berhasil melaksanakan otonomi daerah adalah Kota Solo. Kebetulan PKS adalah partai pendukung pak Jokowi selama dua kali pilkada di Solo. Dari Mas Haris, sekarang Wakil Walikota Salatiga, saya dapat nomor HP Pak Jokowi. Nomornya amburadul, bukan nomor cantik. Saat saya mengirimkan sms yang isinya undangan menjadi narasumber seminar kami, tidak sampai lima menit sudah ada sms jawaban, “Siap Mas, mohon kirim  TOR ke ajudan saya. Ini emailnya.”

Saya pun mengirim Term of Reference ke email dimaksud dan kemudian meng-sms balik Pak Jokowi untuk pemberitahuan email sudah dikirim. Kembali dapat jawaban, “Siap Mas, mohon diingatkan.”

Tiga hari sebelum acara, saya ingatkan beliau. Sayang jawabannya, “Mas maaf saya tidak dapat hadir karena Menkominfo akan datang ke Solo pada waktu bersamaan. Dan menteri sampean ini sudah tiga kali ke Solo saya tidak bisa menemani. Jadi saya akan kirim Pak Sekda untuk mewakili.”
Pagi hari saat seminar di Taman Ismail Marzuki Pak Sekda Kota Solo hadir dan memberi paparan yang sesuai dengan maksud kami menggali peluang dan tantangan otonomi daerah dikaitkan dengan kesejahteraan rakyat.

Setelah itu tidak pernah ada hubungan lagi dengan beliau. Sampai kemudian terjadilah urut-urutan kejadian beliau maju di Pilkada DKI. Dengan trade mark blusukan beliau sukses memberi fenomena baru yang segar, merakyat dan yang utama dengan strategi atau personal identity yang khas menjadi media darling hingga saat ini.

Gebrakannya pada hari kedua melakukan sidak ke kelurahan dan kecamatan, diikuti kunjungan ke pusat-pusat kekumuhan masyarakat tanpa mengikuti protokoler yang menimbulkan kesan suspen (kejutan) bagi khalayak dan media, berhasil menjadi magnet berita yang sangat kuat. Termasuk di antaranya menciptakan moment of truth seperti pelantikan walikota Jakarta Timur di lapangan bola di salah satu kampung juga kebijakannya merotasi Walikota Jakarta Selatan menjadi Kepala Dinas Perpustakaan Daerah, menjadikan Pak Jokowi buruan utama media. Dan semua itu, sering dilakukan tanpa memberitahu media. Hingga, menjadi hal biasa jika ada desk Jokowi di beberapa media kita. Tugasnya sederhana, jam 6 pagi sudah stand by di depan rumah dinas Gubernur. Seterusnya membuntuti dan memburu apa kegiatan Jokowi hari itu.

Di antara gebrakan fundamentalnya adalah menyebarkan KJS (Kartu Jakarta Sehat) yang langsung heboh dan dimanfaatkan masyarakat, serta penyebaran poster berukuran 1 x 1,5 m sampai ke RT dan RW yang berisi informasi APBD Jakarta yang lebih dari 46 triliun itu. Seorang ikhwah yang ketua RT gembira sekali dengan poster ini karena beda dengan tahun-tahun sebelumnya, musrenbang dilakukan tanpa mengetahui besaran alokasi untuk kelurahannya. Sekarang detail alokasi per item di kelurahan bisa diketahuinya dengan akurat.

Tak heran di banyak hasil survei beliau selalu masuk ke dalam jajaran kandidat potensial untuk capres. Karena popularitasnya pulalah, PDIP memanfaatkannya untuk mendongkrak elektabilitas calon kepala daerahnya seperti kejadian di Jawa Barat dan Sumut. Kebetulan di dua pilkada itu, pak Jokowi mendukung calon yang menjadi penantang calon dari PKS.

Dalam konteks dakwah, kita sebagai partai dakwah, di manakah menempatkan Pak Jokowi? Bagaimana masa depan dakwah dikaitkan dengan The Jokowi Effect? Untuk menjawab pertanyaan ini, ada beberapa hal yang perlu kita elaborasi bersama.

Pertama, fenomena Jokowi Effect menunjukkan betapa media, dengan segala lininya—baik cetak, online, elektronik dan yang utama social media, menjadi salah satu pilar utama pembentuk persepsi publik. Mengutip bahasa Mas Silih Agung Wasesa, salah satu pakar marketing politik, di akhir Desember 2011 Pak Jokowi tidak masuk dalam radar media nasional secara masif, tapi di  bulan Juni 2012 beliau sudah memenangkan putaran pertama pilkada DKI. Dalam waktu enam bulan, proses transformasi dari tokoh lokal menjadi tokoh nasional dapat dilakukan.

Pelajaran pentingnya, klise tapi berulang-ulang terjerembab di lubang yang sama, media adalah sarana dakwah yang utama. Dan iklan bukan lagi pembentuk branding utama. Tetapi pemberitaan, pembahasan di media social, sampai bisik-bisik di pasar dan warteg itulah yang menjadi endorser utama pembentukan citra dan branding seseorang.

Itulah sebabnya setelah pilkada DKI, muncul kajian tentang 10:90 marketing strategy, di mana yang dilakukan adalah menyiapkan produk yang baik dengan branding sesuai sikon (10% pekerjaan) dan biarkan publik melalui kanal-kanalnya membincangkan itu dan mem-viralnya, menggulungnya—yang merupakan tahap termahal mestinya hingga menjadi masif dan gelombang besar—yang merupakan 90% pekerjaan.

Kedua, personality seseorang merupakan brand equity paling mahal. Bahasa You cannot train a duck to fly,  bisa kita pahami. Pak Jokowi memang sudah punya bahan dasar yang berkualitas. Kesuksesannya membangun kota Solo menjadi ikon bagi para pedagang. Tindakannya membangun mental melayani di kalangan birokrat plus sikap humble (rendah hati), menjawab sms dan telepon, mengambil satu  ikon mobil nasional, berani teguh mempertahankan prinsip tidak memberi izin mall dan supermarket/mini market adalah satu diantara  contoh bahan dasar itu.

Hati manusia akan tersentuh oleh akhlaqul karimah. Dan akhlaqul karimah pejabat publik tidak dilihat dari kebijakan personalnya, tapi dilihat dari kebijakan publiknya. Tidak memberi izin pada mall dan supermarket atau minimarket,  jelas menunjukkan pemihakkannya pada ekonomi kecil melawan para pemodal. Membela yang kecil tidak membawa pada keuntungan ekonomi, malah lebih sering mendatangkan tantangan dan  tekanan.

Personality pak Jokowi adalah anugerah bagi PDIP. Dulu ditahun 2010 dalam sebuah pertemuan yang digagas oleh Puskaptis UI, saya duduk berdampingan dengan pak Amir Syamsudin, saat itu beliau masih menjabat sebagai Sekjen partai Demokrat sebelum kongres, melihat fenomena banyaknya partai-partai hanya dijadikan kendaraan oleh para tokoh dan pemilik modal dalam banyak pilkada, beliau berujar, “Kami memimpinkan suatu saat   nanti kita akan ambil kader terbaik, kita dukung dan back up dana untuk menjadi pemenang dalam pilkada. Kemudian akan menerapkan nilai-nilai partai dalam pemerintah daerahnya. Bukan menjadi figur yang sibuk membalas jasa para pemodalnya.”

Keberadaan  figur yang memiliki bahan mentah berkualitas ini sangat penting. Saat saya mendapat kesempatan meliput Pilpres Amerika November 2012 lalu, delapan hari menyusuri 12 negara bagian Amerika dan bertemu dengan beberapa pengurus partai Demokrat disana, mereka mengatakan, “We found the man.” Kami telah menemukan orangnya. Bagi mereka menemukan Obama bisa separuh dari tercapainya target. Di negara semaju Amerika saja, peran figur tetap sentral.

Obama adalah figur yang dicari untuk mengalahkan calon partai Republik yang telah berkali-kali mengalahkam Demokrat pada beberapa pilpres terakhir. Mereka sangat yakin Obama menang di 2008 dan 2012 karena kualitas personal Obama memang memiliki bahan mentah yang baik.

Ketiga, ada ciri yang sama antara tokoh-tokoh yang mampu membangun penerimaan publik dan media yang luas. Bukan uang, bukan citra sesaat bukan juga kekuatan besar yang mendukung. Tapi kejujuran, kebersahajaan, karakter mereka itulah yang menjadi modal utama. Dalam inter-connected world yang ada sekarang, pejabat publik hidup laksana dalam akuarium transparan yang memiliki zooming. Ketulusan dan pencitraan sangat jelas bedanya. Kerja keras dan tebar pesona nyata adanya.

Lalu apa hubungan semua dengan masa depan dakwah? Ada banyak. Yang pertama, dakwah perlu di back up media. Yang kedua, dakwah memerlukan pribadi-pribadi memesona dikarenakan kekuatan iman dan kesederhanaannya; pribadi-pribadi bersahaja yang berani mengambil keputusan. Ketiga, dakwah perlu menyayangi kader-kader utamanya ketimbang mementingkan pemilik modal. Keempat, masa depan dakwah sangat cerah, karena melalui contoh kecil Pak Jokowi di DKI, kita belajar bahwa melayani dengan keterbukaan dan penghargaan pada publik dengan tulus dapat menjadi pintu masuk yang murah, berkah dan sesuai dengan sifat dakwah yang mengedepankan akhlaqul karimah.

Fenomena pak Jokowi harus kita petik hikmahnya utk membuat basis dakwah meluas dan menjadi rahmat bagi semua. Wallahu a’lam bishawab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s